Kisah Sebuah Sendok


Suatu malam di kolong jembatan Teluk Gong, Jakarta..
Saya menginap di rumah seorang pengepul sampah..
Istrinya membuatkan mie instan untuk saya..

Ibu: Ya.. Lupa.. Harusnya air kuah mienya dibuang.. Kita ganti air termos.. Kan katanya kuah mie itu mengandung plastik.
(Sambil menuangkan mie rebus ke piring)

Saya: Ya.. Gapapa, bu.. Saya juga suka ga buang kuah mie-nya.
(Dalam hati: “Wah.. Ibu ini sadar kesehatan juga ya..”)

Saya menerima mie rebus dan langsung menyantapnya. Sang ibu duduk sambil memperhatikan saya makan.

Ibu: Saya ga pernah beli sendok loh.. (dengan nada bangga)

Diam sejenak.

Saya: Maksudnya gimana, bu? (Mengunyah ragu sesendok mie)

Ibu: Iya.. Orang itu suka buang sendok.. Padahal kan masih bagus.. Saya ambilin aja dari hasil mulung.. Paling cuma karat2 dikit.. Digosok pakai abu gosok juga hilang.. Lihat tuh sendoknya masih bagus kan? (Dikatakan dengan penuh percaya diri)

Sesendok mie yang sudah dikunyah tadi ditelan dengan berat hati.

Saya: Iya, bu.. Bener juga ya.. (Senyum dan tawa dibuat2)

Maka, dimulailah salah satu makan malam yang penuh cobaan.. Sampai akhirnya tidak ada mie tersisa di sendok dan piring itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s