Hamil!


Artikel ini bukanlah untuk memberitakan saya hamil,

Beberapa hari ini saya melihat berita yang terkait dengan kehamilan, yaitu seorang kakek termuda di Inggris. Ia berusia 29 tahun, anaknya melahirkan pada usia 14 tahun. Kemudian, ada pula video Shinta – Jojo “Hamil Duluan”. Chessy memang… Hehehe…

Karena kedua hal tersebutlah, saya ingat kehamilan-kehamilan di sekeliling saya. Kehamilan muda tepatnya.

Ada hamil muda yang telah direncanakan, ada juga yang belum.

Saya dan teman-teman saya adalah perempuan muda urban. Berpendidikan dan punya kehidupan enak. Namun, kehamilan muda yang tak dipersiapkan tetap terjadi.

Sementara, dalam beberapa masa saya mengenal banyak pembantu perempuan. Mereka seusia dengan saya tetapi memiliki siklus kehidupan yang jauh berbeda. Ibu dan tante-tante saya sering kelimpungan saat sang pembantu ingin pulang untuk menikah. Ya.. menikah di usia 15 sampai 17an.

Seorang pembantu tante saya, sebut saja Irma. Awalnya, dia adalah perempuan yang ceria. Kemudian, ia dinikahkan orang tuanya dengan seorang pria di kampung. Saya pikir saya tak akan pernah melihatnya lagi. Nyatanya, Irma datang ke rumah tante saya sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Ia ingin kembali bekerja lagi di sana karena sulit mencari pekerjaan lain. Saya tak bisa mengobrol ringan lagi dengan Irma, auranya mengeras sebelum waktunya. Inilah perempuan yang dipaksa dewasa.

Bagi saya, kejadian selanjutnya di hidup Irma adalah bagaikan rangkaian sinetron menyedihkan. Ia bercerai dengan suaminya. Anaknya, ia asuh sendiri. Tak lama, Irma menikah dengan seorang duda beranak dua yang pengangguran. Ia pulang ke kampung dan bekerja sebagai buruh kebun. Selama bekerja, ia menggendong anaknya sehingga anaknya itu kulitnya hitam terbakar. Badan anaknya pun menjadi kurus. Kemudian, ia berubah pekerjaan lagi… Saya tak tahu kapan Irma akan menemukan kehidupan yang tenang.

Realitas yang dialami Irma adalah tipikal nasib perempuan daerah di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Dalam sebuah artikel di National Geographic dituliskan, gadis-gadis berusia 5-14 tahun ke atas dipaksa menikah dengan pria-pria berusia 30-50an. Ini sangat gila, namun nyatanya terjadi di India, Yaman, Nepal, Afganistan dan Ethopia. Orang tua menyerahkan anaknya karena dorongan kultur atau untuk membayar hutang. Pernikahan tersebut mengakibatkan trauma, resiko kehamilan muda, bahkan kematian. Lengkapnya, baca di sini.

Setelah Kelas Motivasi bersama anak SDN Padaasih, Desa Padaasih, Subang. Semoga mereka dapat bersekolah terus dan berkeluarga sesuai kesiapan dan pilihan mereka sendiri.

Di kalangan perempuan urban Indonesia, kehamilan muda terjadi dengan cara yang berbeda. Hampir tidak ada orang tua yang memaksakan anaknya menikah di bawah usia, apalagi dengan menikah dengan pria yang asing. Mereka memiliki pilihan untuk sekolah, kuliah, dan berpacaran. Sayangnya, beberapa perempuan hamil sebelum waktunya. Walau kecewa, orang tua menikahkannya kemudian membantu sebisa mungkin agar cucunya memiliki kualitas kehidupan yang baik.

Saya tidak memiliki kapasitas untuk menghakimi. Di sisi lain, saya tidak bisa menahan untuk berpikir bahwa perempuan urban memiliki kesempatan lebih besar untuk menghindarinya. Kita adalah manusia-manusia beruntung. Kita adalah nakhoda nasib kita.

Seperti yang banyak diungkapkan banyak buku, saya percaya hidup adalah hasil dari serangkaian pilihan yang kita buat. Semoga saja saya, teman-teman saya, dapat membuat pilihan yang baik sehingga kita mendapatkan kehidupan bahagia di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s