Kakak Beradik: Beda Jaman, Beda Standar


Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan teori baru saat mengobrol dengan teman-teman saya..

Teori itu berbuah dari pertanyaan: Mengapa kakak dan adik memiliki perspektif gaya hidup dan uang yang berbeda?

Saya dan kedua teman saya adalah anak pertama. Sementara, seorang teman adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Di sebuah resto, kami mengobrol santai. Saya cerita, adik saya, yang berbeda 10 tahun dengan saya, cemberut saat diajak makan di kaki lima sate padang. Dia mengeluh saat disuruh naik angkot. Saya kaget.

Teman-teman saya pun memiliki cerita yang tak jauh berbeda. Adiknya ingin barang yang ini itu. Tidak mau memakai aksesoris yang sama karena teman-temannya selalu menjadi hamba mode.

Mengapa kami memandang adik-adik kami berbeda?

Setelah saya pikir-pikir, kami adalah anak pertama dari para keluarga kelas pekerja menengah atas. Artinya, orang tua memiliki latar belakang yang mencukupi, namun tetap harus bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Orang tua kami memulai kehidupan sederhana, berdua saja. Mereka bekerja sangat keras untuk membeli aset pertamanya, rumah beserta isinya. Di saat inilah, anak pertama hadir. Dengan modal seadanya dan perjuangan hebat, orang tua berusaha memenuhi kebutuhan anak pertama. Saya ingat, waktu saya masih kecil, saya sering dititipkan ke nenek atau tante karena mama sibuk bertugas di Puskesmas Lembang.

Tahun demi tahun berganti, orang tua kami sudah mengumpulkan aset yang lebih besar, pekerjaan yang lebih bonafide. Anak kedua, ketiga, keempat, dst berdatangan. Dalam tahap ini, orang tua sudah bisa memberikan segala fasilitas yang lebih baik dibandingkan saat anak pertama masih kecil.

Saat adik saya lahir, ayah dan ibu bekerja di Bandung. Mereka mempekerjakan pembantu sendiri yang mengasuh adik. Mobil sudah semakin nyaman. Makan di McD, yang dulunya hanya di momen spesial, menjadi makanan biasa yang membosankan.

Gaya hidup anak selanjutnya menjadi setingkat lebih glamor daripada kakaknya. Mereka memiliki keinginan yang mumpuni karena terbiasa diberi hal yang serba berkualitas. Inilah yang menciptakan perbedaan perspektif ekonomi antara kakak beradik.

Tentu saja, teori ini hanya berlaku pada keluarga yang, Alhamdulillah, rezekinya terus mengalir. Kalau yang terjadi sebaliknya, mungkin efeknya pun berbeda. Mungkin, anak pertama menderita standar hidupnya menurun, sementara sang adik bisa menyesuaikan.

Mungkin saja, kakak adik tidak memiliki perbedaan pandangan apabila jarak umurnya dekat dan tidak terjadi perubahan ekonomi signifikan di keluarganya. Selain itu, teori ini terbatas karena  berdasarkan pada realitas yang saya temui saja.

Saya tidak menyalahkan adik saya. Kita hanya hidup di masa berbeda.

Mungkin, kalau saya di posisinya, saya juga tak akan suka makan di pinggir jalan atau naik angkot. Namun ada baiknya, kakak dan adik saling belajar. Saya belajar mengenai pergaulannya. Sementara, ia belajar untuk menikmati kesederhanaan.

Dengan demikian, semoga saja saya dan adik memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas. Bukankah itu harapan yang menyenangkan?

(Saya tunggu cerita dan pendapat mengenai beda perspektif adik kakak ini ya!)

6 responses to “Kakak Beradik: Beda Jaman, Beda Standar

  1. keknya bener juga li…aku anak kedua.punya kakak cowok yang beda tiga tahun.kami lahir dari keluarga yang sederhana, tapi alhamdulillah selalu merasa cukup.meski tetep ga aneh2, aku emang lebih banyak maunya dibandingkan kakak.dia orangnya lebih nrimo…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s