Penyamun Sebelum Ramadhan


Ini bukaanlah tulisan tentang Ramadhan.

Ini cerita tentang bagaimana saya menyadari kedatangan Ramadhan tahun ini dengan cara yang aneh.

Saya mengingatnya, ketika baru memandangi kaca mobil yang pecah, laptop dan alat operasi yang tersimpan didalamnya lenyap. Dan, mama saya mengatakan,” Ini sudah mau puasa ya, li.”

Beberapa minggu lalu, saya, mama, dan adik berkunjung ke rumah nenek di daerah Buah Batu. Saat itu malam, kami mengobrol dan makan bersama untuk menghapus lelah setelah berkegiatan di siang harinya. Kami menikmati momen yang ada. Saat beranjak pulang, kami baru tahu kaca mobil samping kanan pecah. Sepertinya, orang yang memecahkannya sudah ahli. Ia mencongkel kaca bagian atas sehingga pecahan kaca terjatuh ke luar mobil.

Mama langsung mencari barang yang tersimpan di bagasi. Laptop dan alat operasi lenyap. Laptop, dengan mudah mama merelakannya, namun alat operasi sulit. Harganya tidak murah. Untuk apa pula, pencuri itu membawanya?

Alat operasi itu puluhan metal kecil berbentuk sekrup. Pencuri itu akan sulit menjualnya. Itu hanya untuk kalangan terbatas.

Saya menatap jendela mobil tanpa kaca itu, jantung saya jantung yang keras dan cepat. Kalau saja kami pulang saat pencurinya masih ada di dalam mobil, saya benar-benar akan membawa pisau menusuknya, melempari dengan batu, sekaligus mencacinya.

Ya… Saya sangat marah. Namun yang bisa saya lakukan hanyalah berurusan dengan kerusakan dan kehilangan akibat pencuri itu.

Kami pulang mengendarai mobil itu. Saya memikirkan celetukan mama saya yang secara tidak langsung menghubungkan Ramadhan dengan kriminalitas. Memang, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebelum, saat, dan sesudah bulan puasa, kriminalitas meningkat. Saat itulah, para pencuri memanfaatkan kelengahan kita yang  bereforia menyambut momen itu.

Apakah memang benar pencuri ini ada kaitannya dengan Ramadhan? Sulit untuk mengetahuinya, namun saya tidak bisa menahan untuk membayangkan tentang si pencuri ini. ” Ya… Mungkin, dia butuh uang untuk pulang kampung, membeli tajil, baju baru untuk anaknya, membeli motor dan member ang pao untuk sanak saudaranya. Mungkin, dia tertekan,” ucap saya. Saya jadi teringat dengan kata-kata yang terlukis di belakang truk antar daerah, “Pulang Malu, Tak Pulang Rindu.” Mungkin saja, ia mendapat tekanan sosial dari keluarganya untuk tampil hebat dan kaya saat pulang kampung.

Loh.. kok saya jadi kasian ya?

Rasa itu bertambah ketika saya berita di televisi. Seorang pemuda ketahuan mencuri jemuran celana panjang. Warga kesal karena pencurian jemuran sudah sering terjadi. Makanya, pemuda itu dipukuli habis-habisan. Kalau melihat beritanya, dapat saya simpulkan, kamu ibu memarahinya, kaum bapak memukulnya babak belur, sampai mukanya bengkak dan ia menangis. Sementara, para anak-anak menyanyikan ejekan sambil bertepuk tangan saat sang pemuda itu digiring polisi.

Rasanya, menendang dan menusuk pencuri itu memuaskan. Tapi, kalau begitu, apa bedanya saya dengan masyarakat yang membuat babak belur maling jemuran? Karena keburukan seseorang, kita malah membuat kebatilan. Sama saja dengan tenggelam bersama-sama dalam dosa.

Saya mendoakan supaya pencuri itu dibukakan hatinya, mendapat pekerjaan yang baik. Dan apabila memungkinkan, ia memandang alat bedah itu tanpa arti sehingga membuangnya dan kami menemukannya. Apabila itu tidak terjadi, semoga mama saya dapat kembali membeli alat tersebut.

Pencurian itu membuat saya menilik tahun tahun belakangan ini. Keluarga kami lebih banyak mendapatkan kesenangan, rezeki, persaudaraan, pertemanan, dibandingkan hal-hal buruk, semacam ini. Kami terhitung masih beruntung karena pencuri tidak melukai kami. Anehnya, kejadian buruk sebelum Ramadhan ini malah menjadi penyadaran bagi kami sekeluarga.

Sekian cerita saya. Selamat datang kembali Ramadhan!

Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi momen kemenangan kita melawan kelemahan nurani dan keegoisan diri sendiri.

One response to “Penyamun Sebelum Ramadhan

  1. wah, gw turut prihatin atas kejadian gak enak yang menimpa keluarga lo li…
    baca tulisan lo jadi inget film merah putih yang terakhir, “kejahatan gak boleh dibales kejahatan, klo dibaes dengan kejahatan, kita gak ada bedanya sama penjahat”….
    trus kalimat dibelakang truk itu memang mantap, sungguh mewakili perasaan banyak orang, uhuy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s