Imam


Cerpen ini adalah karya dari sesi menulis di RL Writers Circle bertemakan “Hari Raya”. Mungkin pembahasannya sedikit sensitif, akan tetapi saya jujur menulisnya berdasarkan pengalaman dan cerita di sekitar saya.

“Dan, bangun…” ujar Fira yang sudah siap shalat Ied. Ia menggoyahkan tubuh suaminya, Dani.

“Uh… ada apa?” Dani terlihat kesal. Ia masih luar biasa mengantuk setelah semalam menonton HBO.

“Lebaran sekarang!” Fira tersenyum pada pria yang dinikahinya delapan bulan yang lalu itu.

“Oh… ya… Selamat Lebaran. See you, dear… Aku masih ngantuk!” Dani menempatkan kepalanya lagi di bantal. Terpejam.

Fira terpaku melihat suaminya.

“Gitu aja?!?” Fira menimpuk kepala Dani dengan bantal.

“Huaah… kenapa, Fir?” Dani terusik.

Fira membisu.

“Selamat Lebaran, Minal Aidzin, Mohon maaf lahir batin. Cukup kan? Maunya aku ikut kamu shalat juga?!?” Sorot mata Dani menajam.

Fira menyerah, menyeret dirinya keluar kamar, dan membanting pintu. Ia mengenakan sandal kulitnya dan berjalan ke masjid dekat rumah. Pakaiannya yang serba putih terasa tidak sesuai dengan matanya yang penuh bara dan hatinya yang menggeram.
Fira berpikir, sepertinya ia melakukan kesalahan besar. Menjadi anak durhaka dengan menikahi Dani, teman kerjanya di bank yang Manado – Kristen, sehingga melukai hati ayah ibunya: pasangan dari Blitar yang ngefans berat dengan Alwi Shihab.

Ayah Fira pernah berujar, “Mendapat suami itu adalah mendapatkan imam hidup.” Dan kini, sepertinya Fira tak yakin Dani bisa menakhodainya ke tujuan semua pasangan dalam dunia dongeng atau pun nyata: happily ever after.

Saat Lebaran dulu, Ayah, Ibu, Fira dan adiknya bersama-sama berjalan ke masjid, shalat bersama, bersalaman dengan tetangga, sungkem pada orang tua. Kemudian, Fira akan membantu ibunya memanaskan opor yang telah dibuat malam sebelumnya lalu menyantapnya bersama.

Kini, Fira berjalan sendiri. Tak akrab dengan tentangga, dan tidak berencana memasak opor. Menghampiri ke rumah orang tuanya pun Fira merasa sungkan.

Masjid terlihat penuh. Fira menggelar koran dan shalat di aspal jalan. Shalat usai. Ia bersalaman dengan puluhan tentangga yang kurang dikenalnya, dan menjawab puluhan tanya, “Kok suaminya ga ikut?” Setiap tanya menambahan bubuhan garam di hatinya yang tersayat.

Fira memilih pulang cepat, meninggalkan gerombolan tentangga yang punya kehidupan sempurna. Ia sedikit berlari seperti anak kecil sambil meremas bungkusan mukenanya. Saat memasuki rumahnya, ia berencana menangis sendiri di kamar mandi. Tapi ada sesuatu yang lain.

Hidung Fira mencium wangi yang sangat dinantinya, opor! Di dapur, ia menemukan seorang pria berbaju koko sedang memasak.

Dani menoleh ke arahnya, “Fira, sori ya yang tadi. Aku rada sakit kepala tadi,”

Fira terpaku.

“Ini, kemaren di Alfamart nemu bumbu instan opor ayam.” Dani mencicipinya, “Hmm… tapi kok beda ya sama yang ada di restoran?”

Fira tergelak.

Setelah mereka makan opor yang rasanya tidak karuan, Dani mengambil kamera digitalnya dan mengarahkan lensa pada wajah keduanya.

“Hmm.. kok kamu diem aja sih? Foto keluarga dulu… Senyum!”  Dani mencontohkan senyum lebarnya.

Klik!

“Oh… bentar!” Dani memakai kopiahnya. “Kata orang yang di toko, ini satu paket model baju koko eh… siapa itu? Ustad yang terkenal..”

“Ustad Jeffry! Uje” jawab Fira.

“Iya!”

Klik!

Di cetakan foto tampak Fira yang cantik tiba-tiba mencium pipi “Uje”-nya.

***

3 responses to “Imam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s