Cinta hingga di Penghujung Usia


Beberapa orang yang memiliki pemahaman agama tertentu beranggapan,” Kenapa ulang tahun dirayakan? Semakin tua kita maka umur semakin pendek.”

Apa anggapan Anda tentang ini?

Bukan bermaksud melawan, tapi saya punya paradigma yang jauh berbeda.

Memang tiap hari umur kita memendek, semakin tua, yang tadinya segar jadi keriput, yang tadinya lincah jadi lemah. Tapi tetap saja, saya berharap melaluinya dengan bahagia… bukan ratapan bahwa sebentar lagi akan masuk ke liang kubur.

Oleh karenanya, ketika keluarga dan teman saya ada yang ulang tahun, saya semakin mencintai mereka dan berusaha memberikan pesta terbaik.

Saya ingat, dahulu kakek saya dengan romantisnya memainkan piano sambil bernyanyi saat nenek saya ulang tahun. Keluarga besar kami berkumpul diantara sepasang sejoli yang puluhan tahun dimabuk asmara itu. Mereka saling menempelkan pipinya dengan hangat. Itu yang saya ingat.

Tak lama kemudian, kakek saya meninggal. Saya yang saat itu masih SD menangis tak keruan, dari mulai jenasahnya sampai di rumah, disholatkan, dimasukan liang kubur sehingga menyatu dengan tanah. Saya menangis karena kehilangan seseorang yang mencintainya dengan khas.

Kakek saya adalah dosen yang cukup tegas, ayah dari tujuh orang anak, dan seorang suami romantis. Ia tidak begitu religius tapi sangat pengasih. Kadang ia galak, memarahi saya karena manja atau tak mau berbagi. Tapi belakangan saya tahu, kakek saya berusaha membahagiakan saya. Bila saya mau makan di restoran ini atau itu, ia hampir selalu mewujudkannya.

Apabila saya dapat mengulang waktu, saya berharap dapat memberikan pesta-pesta ulang tahun yang lebih meriah bagi kakek saya. Merayakan semua cinta yang ia berikan selama bertahun-tahun. Cinta yang lebih banyak ia lakukan dibanding katakan.

Kini, nenek saya tidak mendapatkan dentingan piano dan nyanyian kakek saat ia berulang tahun. Tak masalah, saya dan keluarga berusaha memberikan pesta terbaik, walau pun tak mampu menyaingi nyanyian kekasihnya.

Bagi yang tetap pada pendiriannya untuk tidak mengucapkan atau merayakan ulang tahun, silahkan. Saya tidak bermasalah dengan itu.

Yang jelas, saya ingin menyayangi keluarga dan teman sepanjang tahun. Dan, saat mereka berulang tahun, saya ingin menghujaninya dengan nyayian, pelukan, cium, dan senyuman terhangat… hingga di penghujung usianya.

 

Didedikasikan untuk kakek saya, dan seorang teman yang baru kehilangan kakeknya.

2 responses to “Cinta hingga di Penghujung Usia

  1. terimakasih banyak uli…
    tapi mungkin, bagi mereka yang tidak mau merayakan ulang tahun, dikarenakan setiap hari adalah waktu yang spesial buat mereka…
    sama seperti 14 februari sebagai hari kasih sayang,
    bukankah setiap hari penuh dengan kasih sayang, dan kalau bisa saling menyayangi setiap hari, untuk apa menunggu 14 februari

  2. yup, betul banget..
    kalau ada 365 hari setahun maka lebih baik 365 hari itu menyenangkan, termasuk di hari ulang tahunnya..

    thanks for the feedback.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s