Belajar jadi “Buta Warna”


Mungkin begitu kamu baca judul di atas,  kamu bilang “Siapa juga yang mau belajar jadi buta warna?!?”

Jangan kaget dulu…

Yang saya maksud, bukan buta warna beneran, yang membuat kamu nggak bisa masuk kuliah jurusan seni atau kedokteran.

Daripada saya menjelaskan makna “buta warna” dengan kata-kata, maka tontonlah video iklan Petronas karya sineas Malaysia, Yasmin Ahmad. (Mentang-mentang ini dari negeri jiran, jangan berprasangka video-nya alay. Keren banget malahan! ;P)

Tan Ho Ming dan Umi adalah anak SD yang jatuh cinta. Anak-anak masih sangat polos. Buta warna saat memilih orang yang mereka suka. Coba bayangkan, apabila mereka bertemu saat remaja. Saat orang-orang di sekelilingnya telah merasukkan pikiran mereka tentang sifat tipikal “si cina”, “si melayu”, atau” si india”.

Mungkin, Tan Ho Ming tidak melihat Umi sebagai “Umi” seutuhnya. Begitu pula sebaliknya. Sehingga, terlalu banyak embel-embel di pikiran mereka. Mereka tidak “buta warna” lagi. Lalu, Tan Ho Ming dan Umi tidak jatuh cinta.

Menyedihkan ya…

Rasanya sudah cukup membahas dua anak SD itu. Sekarang saatnya bertanya pada kamu:

Apakah kamu orang yang “buta warna”?

Tanpa berpikir panjang, mungkin dengan yakinnya kamu akan menjawab “Iya!”

Mungkin dengan dasar pemikiran seperti… “Saya kan orang Indonesia, negara yang penduduknya beragam suku dan agama. Saya percaya Bhineka Tunggal Ika. Jadi, saya pastinya orang “buta warna”!”

Saya akui, ini adalah pertanyaan yang super duper mudah dijawab, bahkan ama anak SD kelas 5.

Kalau gitu, saya ganti pertanyaannya menjadi: “Pengennya kamu punya pacar dari suku apa? Kenapa?”

Tidak sama dengan pertanyaan pertama, jawaban anda di pertanyaan ini bisa sangat warna-warni.

Mungkin anda memilih orang Sunda, karena keluarga anda berasal dari Garut. Atau, dengan orang Batak dari marga tertentu, sesuai dengan perintah ortu. Dengan orang Jawa, karena katanya sih orang Jawa bicaranya halus.

Bagi orang Indonesia, persetujuan orang tua dalam memilih jodoh itu super penting kan?

Lalu, apa pendapat orang tua kamu? 

Dari curhatan teman-teman, beberapa orang tua tak hanya menjelaskan orang suku mana yang “diminati” jadi mantu, tetapi juga suku-suku yang “kurang disetujui” jadi menantu. Akibat dari prasangka ini sangat berimbas pada sang anak. Mulai dari, putus, patah hati, depresi, dan kalau sudah terlanjur cinta banget maka kawin lari. Wew… bikin prihatin ya?

Contoh nyatanya terjadi pada teman saya. Ia pacaran dengan seorang pria dari suku “B”. Kadang ia suka setengah hati kalau berpacaran, tapi untuk pria satu ini dia benar-benar suka!

Sayangnya, orang tua si cowok punya pikiran yang sangat berseberangan. Mereka menyuruh si cowok untuk mutusin teman saya. Alasannya: teman saya bukan dari suku “B”. Pertama, mereka backstreet. Namun, setelah dijalani ternyata nggak enak juga main “ucing sumput” sama orang tua sendiri. Dan, putuslah mereka dengan proses yang berat dan seember air mata. Saya turut prihatin akan hal ini.

Seringnya, seseorang membuat penolakan terhadap suku lain karena stereotipe. Misalnya, orang suku “B” itu ngomongnya lantang kayak marah-marah. Dan, ia nggak suka orang seperti itu. Padahal, tidak semua orang di suku “B” itu begitu.

Kadang stereotipe dibuat dengan langkah yang super ekstrem. Alkisah, seseorang pernah bisnis bareng dengan orang suku “X”. Kemudian, ia ditipu habis-habisan oleh rekan bisnisnya. Sejak itu, orang itu beranggapan bahwa semua orang suku “X” itu tukang tipu.

Orang bebas menentukan pilihannya untuk berteman dengan siapa. Mungkin, ia bisa saja berteman biasa dengan suku yang ia anggap “kurang baik”. Namun, begitu memasuki ranah yang lebih pribadi, keputusan seseorang bisa berubah. Ia mungkin bisa berteman baik dengan orang suku “Y”, namun begitu orang suku “Y” melamar anaknya. Ia bisa saja mati-matian menolak.

Apakah salah kita membuat batasan suku dalam berteman atau mencari pasangan hidup?

Apakah kita dapat Bhineka Tunggal Ika, menyatu dalam perbedaan?

Apakah kita benar-benar “buta warna”?

Hanya kamu yang bisa menjawabnya sendiri. Dan, saya tidak bisa menghakimi mana yang baik dan buruk. Yang jelas, berdasarkan pengalaman sahabat-sahabat, kemampuan kita “melihat warna” dengan cara yang sempit, telah menghasilkan dengki, sakit hati, dan luka.

Mari kita renungkan bersama.

One response to “Belajar jadi “Buta Warna”

  1. mantep nih buat renungan…

    betul banget li, terutama yang masalah orang tua
    nyokap gw juga salah satu contohnya,haha…

    tapi kan li, kalo menjalin hubungan yang sifatnya lebih pribadi kan gak sama cewe/cowonya doank, tapi keluarganya, bahkan keluarga besarnya juga, bisa aja personal cewe/cowonya sesuai dengan yang diinginkan, tapi saudara2nya blom tentu, jadi emang perbedaan suku, bangsa dan agama tuh harus dipikirkan lebih matang lagi…

    intinya mah harus siap menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya (sok tau gitu gw,haha)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s