“La Graine et le Mulet” di Festival Sinema Perancis: Jujur, Menyentuh, sekaligus Kejam


“La Graine et Le Mulet” atau The Secret of Grain ditayangkan di hari pertama gelaran Festival Sinema Perancis di Bandung.

Saat saya diajak Andika, sahabat di klub nulis RL, yang saya bayangkan adalah saya akan menonton film yang menceritakan orang perancis yang terkenal akan kebebasan dan kejujurannya, termasuk dalam urusan seks dan cinta. Hmm… ternyata saya salah.

Sang imigran tua dan Rym berpetualang mencari nasib baik

“La Graine et Le Mulet” menceritakan tentang Slimane Beiji, seorang imigran keturunan Arab yang kesepian. Ia berpisah dari istrinya dan merasa sedikit ditinggalkan oleh anak-anaknya. Dengan motor tuanya, Slimane sering mengantarkan ikan segar kepada anak-anaknya. Lama kelamaan, anak-anaknya pun bosan dikirimi ikan terus.

Slimane tinggal di sebuah kamar hotel yang kecil. Hanya ada seekor burung yang menemaninya di kamar, namun Slimane mendapatkan cinta yang begitu besar dari Hatika, sang pemilik hotel. Anak perempuan Hatika, Rym pun menganggap Slimane sebagai ayahnya sendiri.

Ditengah berbagai kehimpitan ekonomi, kasih sayang, dan umur, Slimane ingin membangun restoran couscous ikan (mungkin bisa juga disebut nasi kebuli) di atas kapal tua yang milikinya. Kita bisa menyebutnya ini adalah impian yang gila. Pertama, Slimane tak memiliki aset untuk membangun restorannya. Kedua, nasi kebuli itu akan dibuat oleh mantan istrinya. Fakta ini membuat pacar Slimane, Hatika kesal bukan main. Di tengah berbagai pertentangan Slimane tetap membuat restoran ini, memohon diberikan pinjaman, ijin mendirikan restoran, dan memperbaiki kapal bersama Rym dan anak-anaknya.

Dibalik perjuangan itu, anak-anak Rym menyimpan berbagai masalah. Ada perselingkuhan dan prasangka buruk. Di sisi lain, keluarga yang siap karam ini juga menyimpan cinta. Di akhir, malam pembukaan restoran kapal akan terjadi banyak kejadian yang rumit, mengesalkan dan pintar. Dan, akhirnya cerita akan ditutup secara tepat dan kejam secara bersamaan.

Film yang disutradarai dan ditulis oleh Abdellatif Kechiche, berhasil mendapat banyak penghargaan Cesar Award (termasuk sebagai Film Terbaik) dan Venice Film Festival (termasuk mendapat Special Jury Prize). Film yang lumayan menjanjikan, bukan?

Saat menonton ini di XXI Ciwalk, saya menemukan banyak penonton yang beranjak pergi di tengah penanyangan. Mungkin, mereka tidak kuat dengan dialognya yang panjang. Padahal, dialognya menarik dan plotnya masuk akal. Sanking masuk akalnya, saya menemukan beberapa karakter dan dialog di kehidupan nyata, terutama di keluarga. Ada cinta, kemunafikan, kekesalan, dan maaf. Emosi dalam film ini begitu menghantui otak  saya, sampai-sampai saya geregetan melihat endingnya yang penuh emosi.

Dua acungan jempol! Dan, anda harus menontonnya. Ya. Untuk membersihkan otak anda dari film dengan karakter superhero yang terlalu hebat dan palsu. Menggantinya dengan ide film ini, bahwa manusia adalah mahluk yang dengan segala keterbatasannya adalah manusia yang utuh dan sempurna.

One response to ““La Graine et le Mulet” di Festival Sinema Perancis: Jujur, Menyentuh, sekaligus Kejam

  1. film2 prancis byk yg bagus2 emang.
    liat posternya aja bikin pgn ntn.
    dan berhubung bahasa mereka beda jadi kedengeran unik aja klo dengernya.
    bbrapa film eropa yg menurut gw bagus bgt:
    -jeux d enfants (prancis)
    -la vitta bella (italy)
    -mother of mine (finlandia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s