Momentum


Farewell party yang berhasil membuat saya kaget dan nangis bombay karena terharu.

“Enthusiasm is the energy and force that builds literal momentum of the human soul and mind
Bryant H. McGill

Apakah sebuah makan siang di sebuah kantin bisa membuat perubahan besar?  Ajaibnya, kejadian itu mengubah hidup saya selama enam bulan kedepan.

H-1

Pada siang hari, setelah berkuliah, saya dan teman-teman makan di kantin Alex. Kami suka makan di kantin itu walau pun sering tidak kebagian tempat duduk. Toh, kami tidak peduli. Kami duduk di lantai, lalu makan sambil bergosip bersama. Inilah ritual untuk melepas stress dan lelah setelah bergumul dengan tugas dan kuliah jurnalistik, yang dashyat sulitnya.

Baru satu suap nasi masuk ke mulut, kami sudah mulai bertukar gosip. Namun, diantara kelebatan gosip itu, seorang teman, Vanya menyebutkan informasi (bukan gosip!) yang ia dapat dari website Unpad.

“Eh… di Unpad tuh ada program pertukaran pelajar ke Korea selama satu semester. Tapi deadline ngumpulin essai diri dan biodatanya besok.”  Begitulah kira-kira bunyi informasi dari Vanya.

Secara selintas, info Vanya dibahas. Sisanya, kami bergosip lagi. Namun, pada saat saya menyetir pulang ke Bandung, mengajar ekskul, hingga datang ke kantor untuk mengerjakan projek, kata-kata Vanya masih terngiang-ngiang di kepala, seperti lalat yang tidak mau pergi.

“Sal, kayaknya aku mau ikut seleksi student exchange ke Korea deh…” ucap saya tiba-tiba ke pacar yang sibuk dengan laptopnya.

Selama tiga detik, Faisal diam.

Lalu, dia bilang, “Heh!?”  dengan gayanya yang sangat khas.

Ribuan detik selanjutnya, Faisal dibombardir dengan pidato tentang impian dan ambisi saya, untuk punya pengalaman sebanyak mungkin dalam hidup.  Seperti biasa, Faisal mendengarkan dengan fokus dan memberi masukan yang semakin mengobarkan semangat.

Akhirnya, saya sepakat untuk mencoba seleksi student exchange walaupun deadline untuk mengumpulkan berbagai persyaratan adalah: BESOK.

Detik itu juga, dengan bantuan Faisal, saya mencari info-info di internet dan menulis kerangka essai dalam bahasa Inggris, yang ternyata lumayan sulit untuk dikerjakan.

“Tie, bisa tolongin gue nggak? Mintain transkrip nilai gue dong di SBA, buat gue ambil besok,” ucap saya sedikit panik di telepon.

“Oke…oke,” kata sang sahabat, Astie, dengan sigap.

HARI H

Essai belum selesai, tapi kuliah padat. Panik! Selama di kelas, saya mengutak-ngatik essai di laptop. Jarum jam seperti ikut berketuk di otak: Tik…Tok…Tik…Tok… Essai harus dikirim ke Unpad Dipati Ukur jam 16.00. Sementara, saya masih berada di kampus Jatinangor. Grrrr…..

Untungnya,  teman-teman sekelas membantu. Mulai dari membantu pasang listrik laptop,  mengoreksi kesalahan grammar, sampai me-review essai.

Essai sudah di-print di dekat kampus. Saya masukan semua dokumen, termasuk transkrip nilai yang disiapkan Astie, kedalam amplop coklat.

Deadline semakin dekat. Saya tancap gas menuju ke Unpad Dipati Ukur. Saya sok-sok membalap mobil-mobil di jalanan dengan kecepatan tinggi. Padahal, kalau dilihat-lihat,  mobil saya jauh dari spesifikasi mobil balap. Mobil kecil nan irit, Atoz Hyundai, warnanya emas kecoklatan… Nick name-nya: “Anak Emas” alias “Little Chicken”.

Sesampainya di Dipati Ukur, saya heboh mencari-cari Kantor Luar Negeri Unpad. Akhirnya… ketemu juga!  Tapi, kantor sudah sepi. Panik. Ada seorang bapak yang siap-siap pulang, dia sudah memakai ranselnya dan mengenggam helmnya.

“Pak, permisi. Saya mau ngumpulin dokumen untuk student exchange ke Korea. Masih bisa?” ucap mahasiswi yang sudah berkeringat.

“Oiya.. bisa-bisa.” Sang bapak menerima amplop coklat, dan menaruhnya di tumpukan dokumen milik kontestan student exchange lainnya.

Yes! Alhamdulillah belum telat. Napas yang tadinya terbata-bata, langsung lancar kembali.

Sebuah Momentum

Hari-hari selanjutnya diisi dengan tes wawancara, sampai akhirnya saya dinyatakan lolos untuk mengikuti program pertukaran pelajar tersebut. Saya berangkat ke Korea Selatan dan berkuliah di Ajou University, Suwon selama empat bulan.

Kegiatan ini memberikan pengalaman dan pengalaman yang sangat berharga. Selama menjalani perantauan ini, saya selalu ingat berbagai alasan dan momentum yang membuat saya bisa berada di Negeri Gingseng.

Saya bisa ikut pertukaran pelajar ke Korea, salah satunya berkat bantuan teman-teman. Vanya memberi informasi berharga saat kita makan siang di Alex.  Faisal membantu dalam banyak hal, ia juga yang memberi berbagai masukan.

Astie yang sudah mengurus transkrip nilai dan selalu menyemangati. “Temen sepaketan saya”, Sitti mendukung setiap langkah-langkah saya. Tari, Thabi, Feli, dan Riezka membantu menulis essai. Andra, Dimas, Sari, Utuy, Lodra, Emel, Aisha, Bude, Abang, Ajat dan semua anak Jurnal 2006 selalu kompak dan membantu satu sama lain. Tanpa saya sadari, kalian adalah orang-orang yang membantu menemukan momentum-momentum dalam hidup saya.

Pengalaman ini dapat menyadarkan bahwa berbagai kejadian menarik bisa datang di momen yang kita anggap rutin dan biasa, seperti: makan siang di kantin. Hal ini membuat saya semakin menghargai setiap momen.

Coba kita runut kembali, dan pikirkan kalau sesuatu terjadi dengan sedikit saja perubahan. Misalnya, Vanya punya urusan lain yang lebih penting sehingga tidak membaca berita seleksi student exchange di website Unpad. Atau, saat makan siang kami sibuk bergosip saja sampai Vanya tidak sempat menyebutkan “pengumuman” tersebut.

Atau, saya lebih memilih langsung  pulang ke Bandung dan tidak ikut makan siang. Apa jadinya bila saat saya bertemu Faisal, dia malah membuat saya semakin ragu untuk ikut program ini.  Bisa saja,  Astie lupa untuk meminta transkrip nilai ke SBA. Apa jadinya bila teman-teman saya tidak membantu saya menyelesaikan essai?

Kalau saja, salah satu kejadian di atas terjadi maka akan sangat mungkin, saya tidak berstatus sebagai exchange student seperti sekarang ini.  Saya dapat berhasil berkat bantuan dan dukungan kalian.

Untuk itu, saya ucapkan terima kasih untuk teman-teman, yang sudah membimbing saya dalam meniti momen penting ini dalam hidup. Saya berharap agar kita bisa saling mendukung. Kita saling membantu untuk menemukan berbagai momen-momen menakjubkan lainnya dalam hidup kita.

Love U, All!

“Enthusiasm is the energy and force that builds literal momentum of the human soul and mind
Bryant H. McGill

2 responses to “Momentum

  1. uli,,,
    detik-detik waktu itu punya jalan cerita.
    mungkin itu jalan cerita buat kamu bukan yang lain, karena saat itu kamu sendiri yang memilih dan menentukan jalan ceritanya.
    sementara yang lain, memilih jalan cerita yang beda sama kamu.
    hehehehe,,,
    kalau kata temen aku:
    “satu hari itu 24 jam, jangan kamu sia-siakan satu detik pun”
    gara2 itu juga sekarang temen aku jadi penyiar di OZ.
    Sukses yah uli, senang pernah jadi momen di hidup kamu.

  2. Uli, km emang memanfaatkan baik tiap detik yg ada dlm kehidupan km. Tiap manusia begitu bermakna dihadapan km, itu juga membuat km dpt pengalaman berharga untuk seumur hidup. Sukses km, membanggakan ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s