The Jakarta Post is hiring

The Jakarta Post is hiring! Reporters

Requirements:
1. Indonesian citizen
2. University graduate not older than 28 years old
3. Proficient in English (minimum TOEFL score of 550 or IELTS score of 6.5 or TOEIC score of 750)
4. Submission of writing sample (200-300 words) in English
5. Willing to be based in Jkt

Please send your application,CV,writing sample,recent photograph and copy of a valid ID,diploma/academic transcript and TOEFL/IELTS/TOEIC predictive socre,

HRD The Jakarta Post
Jl.Palmerah Barat no. 142-143 jkt 10270
Or send via e-mail to hrd@thejakartapost.com

Closing date: August 5, 2013

She doesn’t dare to dream

Mba Ika sudah bekerja sebagai pembantu tante saya selama lebih dari lima tahun.

Di rumah tempatnya bekerja, Mba Ika mendapatkan akses luas terhadap informasi, mulai dari koran harian Kompas, siaran televisi lokal hingga luar negeri. Layaknya orang kota, Mba Ika pun punya handphone Blackberry.

Saya pikir semua kemewahan tersebut akan membantunya jadi orang kota, yang umumnya percaya diri. Uppss… saya salah.

Obrolan via BlackBerry Messenger (BBM) bersama Mba Ika di suatu siang.

Saya: Mba ika, mau nanya dong…

Mba Ika: Nanya apa kak uli… PING!!

(sejam kemudian)

Saya: Haha… Ga jadi. Tadinya mau wawancara.

Mba Ika: Lah kok.. emang wawancara apa? Ga salah aq yang diwawancara?

Saya: Aku kan mau nanya pendapat masyarakat. Apakah mau anaknya jadi anggota DPR. Karena menurut survei banyak yang ga mau.

Ika: Ooo… ya salah kalau kak uli nanya ama aq, aq kan cuma pembantu.

Saya: (tiba-tiba membara) Laahh… Suara rakyat… Kita semua rakyat… Semuanya penting… Makanya kalau di pemilu, coblosan presiden atau pegawai diitungnya sama: 1 aja.

IKA: Iya tp… kan mustahil banget kan kak uli.. Masak iya anak pembantu mau jadi (anggota) DPR. Oooohh… gitu maklum kita ka ga tau masalah gitu kak uli.. yang tau hanya (orang) di DPR.. Hihihi…

Saya: (sudah menyerah) Ah… Mba Ika bisa aja…

Dilema di Jakarta

Di pagi yang biasa, saya naik mobil ke stasiun kereta, naik kereta kemudian naik angkot.

Turun di perempatan, saya memasuki shelter busway. Tak lama kemudian saya di bonceng ojek.

Hal semacam ini sudah menjadi rutinitas selama tiga bulan terakhir. Lima sampai tujuh moda transportasi saya naiki dalam satu hari dari rumah di Bintaro, kantor di Palmerah, dan tempat liputan yang tersebar dimana-mana.

Pertengahan Juni, dua orang menggugat Presiden SBY dan Gubernur DKI Jakarta Foke, setelah mereka melihat laporan Ditlantas Polda Metro Jaya bahwa orang Jakarta rata-rata menghabiskan 1.5 jam di jalan untuk pergi dan pulang kerja.

Kelihatannya kecil kan? Kalau dihitung dalam setahun, maka setara dengan satu bulan. 

Dalam kasus saya, perjalanan sehari bisa melebihi 2 jam.

Hal ini membuat saya berpikir, selama di jalan itu saya habiskan buat apa ya?

Umumnya, mata terpaku pada Blackberry untuk riset berita atau sekedar melihat joke di 9GAG. Namun, apabila kendaraan sesak dan menahan tubuh dengan dua tangan, pikiran saya entah kemana.

Dari segi biaya pun, cukup luar biasa. Memang kendaraan umum murah, namun apabila sehari bisa menaikinya beberapa kali, yah… lumayan juga.

Hal ini membuat saya berpikir, apakah sebaiknya ngekos saja di dekat kantor ya?

Dalam hal ini pun ada plus minus-nya. Kalau saya ngekos, maka saya meninggalkan kenyamanan, kebebasan dan udara segar di Bintaro.

Untuk itu saya ingin mendengarkan pendapat Anda, mana yang lebih baik dipilih:

Penghematan waktu perjalanan atau kenyamanan tempat tinggal?

Kisah Sebuah Sendok

Suatu malam di kolong jembatan Teluk Gong, Jakarta..
Saya menginap di rumah seorang pengepul sampah..
Istrinya membuatkan mie instan untuk saya..

Ibu: Ya.. Lupa.. Harusnya air kuah mienya dibuang.. Kita ganti air termos.. Kan katanya kuah mie itu mengandung plastik.
(Sambil menuangkan mie rebus ke piring)

Saya: Ya.. Gapapa, bu.. Saya juga suka ga buang kuah mie-nya.
(Dalam hati: “Wah.. Ibu ini sadar kesehatan juga ya..”)

Saya menerima mie rebus dan langsung menyantapnya. Sang ibu duduk sambil memperhatikan saya makan.

Ibu: Saya ga pernah beli sendok loh.. (dengan nada bangga)

Diam sejenak.

Saya: Maksudnya gimana, bu? (Mengunyah ragu sesendok mie)

Ibu: Iya.. Orang itu suka buang sendok.. Padahal kan masih bagus.. Saya ambilin aja dari hasil mulung.. Paling cuma karat2 dikit.. Digosok pakai abu gosok juga hilang.. Lihat tuh sendoknya masih bagus kan? (Dikatakan dengan penuh percaya diri)

Sesendok mie yang sudah dikunyah tadi ditelan dengan berat hati.

Saya: Iya, bu.. Bener juga ya.. (Senyum dan tawa dibuat2)

Maka, dimulailah salah satu makan malam yang penuh cobaan.. Sampai akhirnya tidak ada mie tersisa di sendok dan piring itu..

Apa bedanya miskin di kota dan desa?

Baru pada usia 23 tahun ini, saya akhirnya bisa sedikit mengetahui rasanya miskin di desa dan di kota. Merasakan dalam hal ini, adalah tinggal bersama keluarga kurang mampu.

Memang benar, miskin di mana pun tak enak. Namun, setelah mengamati kehidupan miskin di Subang, Jawa Barat dan kolong jembatan Teluk Gong, saya terkejut sendiri melihat banyaknya perbedaan keduanya. Perbandingan ini tentunya tidak dapat digeneralisasikan pada semua desa dan kota.

 

1. Kamu siapa?

Penduduk desa umumnya terpusat dan terpisah kehidupan kota, seseorang cenderung tidak merasa miskin. Ia memiliki tetangga yang sama gaya hidupnya, sehingga merasa setara. Paling mungkin ia menyadari status ekonominya adalah saat menonton TV.

Di kolong jembatan Teluk Gong, penduduknya dapat melihat mobil mewah berseliweran di kanan kiri (bahkan di atas mereka). Walau tidak memiliki rumah layak, hampir semuanya memiliki TV dan intens menonton sinetron yang sering menampilkan kemewahan pula. Mereka benar-benar sadar lemahnya status ekonomi mereka.

2. Slum is a melting pot

Pemukim kolong jembatan Teluk Gong adalah kumpulan pendatang dari tanah Jawa dan Sunda. Sayangnya, mereka mulai meninggalkan bahasa daerahnya, dan berupaya membaur dengan berbahasa Betawi.

Kemungkinan lebih mudah menyelaraskan penduduk di desa, karena mereka sama-sama penduduk asli yang berbudaya dan berbahasa sama.

3. Dimana rumah sakit? Dimana mall?

Saya ingat, cerita seorang ibu hamil di desa. Di tengah malam, sang ibu baru melahirkan setengah jalan. Kaki dan perutnya sang bayi sudah keluar, tetapi kepalanya masih tertahan di dalam. Agar bisa bernapas, sang bayi harus cepat dikeluarkan. Tidak ada angkutan umum di malam hari. Keluarga sang ibu harus mencari pinjaman mobil angkot milik tetangga dan melalui jalan panjang ke pusat kota. Saat sang ibu sampai di rumah sakit, sang jabang bayi sudah tidak bergerak.

Tidak sulit bagi penduduk miskin kota mencari rumah sakit. Rumah sakit pemerintah hingga yang mewah menjulang di sekitarnya. Masalahnya, mereka harus berlomba dengan bejubel penduduk miskin kota untuk mendapatkan pelayanan kesehatan murah secepatnya.

4. Tanah, air dan udara

Walau secara akses sulit, desa menyediakan “kemewahan” udara segar, lahan bersih dan air jernih. Bahkan, air selokannya pun yang jernih.

Saat tidur di kolong jembatan, kita mendengar mobil yang melewati jembatan sepanjang malam. Di saat yang bersamaan, kita dapat mencium bau air hitam kelam, di kali yang tidak mengalir. Nyamuk-nyamuk yang bebas berkembang biak di kali, mengganggu lelapnya. 24/7 kita dipaksa menghirup udara beraroma knalpot kendaraan.

 

Setelah mencicipi kehidupan kekurangan di desa dan di kota, saya rasa miskin di kota lebih menderita. Seseorang menjadi sepenuhnya sadar bahwa ia berada “kasta terendah” dalam masyarakatnya, harus menyesuaikan diri dengan budaya Jakarta dan hidup di tengah polusi.

Pada akhirnya, mau di desa atau di kota, hidup serba kekurangan tidaklah menyenangkan.

Dalam Diam

Awal tahun ini, saya pindah ke ibu kota untuk bekerja.

Saya suka ketidakteraturan yang indah, seperti lukisan abstrak yang punya daya magis membuat kita memandangnya terus menerus tanpa tahu maksudnya. Namun, saya belum menemukan itu di Jakarta.

Kesemrawutan, ketimpangan, kebisingan. Dan, saya bertahan tetap sadar.

Sore-nya, saya pulang ke rumah di Bintaro, di sanalah saya tinggal sendiri. Selama seminggu pertama, saya merasa aneh. Sejak pulang kantor hingga keesokan paginya, saya jarang atau tidak sama sekali berbicara.

Di rumah itu, sama sekali tak ada orang, jadi untuk apa juga saya bicara. Yang membuat saya kaget adalah… kesunyian itu, kediaman itu membuat saya berpikir lebih jernih.

Nyatanya, saat orang diam.. ia berbicara dalam hati. Mengenai apa pun juga yang sifatnya personal. Mempertanyakan kembali keputusan-keputusan dan prinsip-prinsip. Mereka ulang, apakah yang kemarin dilakukan adalah kesalahan atau bukan.

Tak heran, ada orang-orang yang bermeditasi atau semedi. Tentunya, mereka tidak duduk bersila sambil tidur kan?😀

Kita terfokus pada komunikasi dengan orang lain, sehingga kadang melupakan bahwa diri sendiri juga perlu diajak ngobrol.

Dalam diam, saya tersadar.. Mungkin, sebelumnya saya menyisihkan hal penting, karena terpana pada perbincangan gosip sana sini, yang seolah membuat hidup orang lain lebih pantas diurusi dibandingkan kehidupan diri sendiri.