Hukum 10.000 Jam = Outlier

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. 

-Aristotle- 

Mengapa segelintir orang bisa sukses, dan yang lainnya tidak? 

Apa persamaan antara The Beatles dan Bill Gates

Pertanyaan pertama, adalah pertanyaan yang sering muncul di benak kita. Dan lebih sering lagi muncul di pikiran orang yang baru saja gagal. 

Pertanyaan kedua, menyangkut dua nama besar dalam sejarah modern. 

Seluruh pertanyaan ini, saya dapatkan jawabannya dari buku Outlier karangan Malcolm Gladwell

 

Dalam buku ini, Malcolm memberikan berbagai kisah sukses dan gagal dari berbagai tokoh. Dan, membantu kita menemukan “benang merah” cara meraih keberhasilan secara perlahan namun pasti. 

Kita harus mengakui, bahwa di dunia ini banyak orang pintar. Tidak usah cari yang jauh-jauh, cari saja di kampus sendiri. Apakah ada mahasiswa yang IP-nya lebih tinggi dari kamu? Kalau kamu jenius banget, silahkan bandingkan IQ kamu dengan Eistein. Kalau ternyata kamu lebih pintar, seharusnya kamu sudah lebih terkenal dari Einstein :P  

Ternyata, tidak semua orang yang pintar itu pasti berhasil. 

Sebagai contoh, Malcolm menceritakan kisah hidup Christopher Langan, yang memiliki IQ 195. Kemampuan otaknya lebih tinggi dari Einstein yang ber-IQ “hanya” 150. Namun, dunia tidak pernah mengenal kehebatan Langan.  

Menurut, Malcolm penyebab kegagalannya adalah lingkungan yang tidak mendukung. Langan hidup di keluarga yang tidak harmonis dan sangat miskin. Orang-orang di sekitarnya pun tidak mengajarinya untuk berinteraksi dengan lingkungan. Langan mudah mendapat beasiswa, namun semudah itu pula terlepas dari genggamannya. Pada akhirnya, IQ fantastis yang tidak didukung lingkungan, tidak akan membuahkan keberhasilan. 

Lingkungan hanyalah salah satu faktor kunci yang diungkapkan Malcolm dalam bukunya. 

Dalam tulisan kali ini, saya hanya akan membahas faktor penting lainnya untuk menjadi seorang Outlier

Secara garis besar, Outlier adalah suatu keadaan atau variabel yang sangat berbeda dari variabel lainnya. Apabila istilah ini kita pinjam untuk menggambarkan seseorang, maka Outlier adalah orang yang memiliki pencapaian yang sangat mencolok dibandingkan orang kebanyakan. 

The Beatles adalah band yang terdiri dari empat pria dari Liverpool, mulai terkenal sejak 1962, menciptakan banyak lagu hits, hingga kini masih mendunia, dan masuk kedalam daftar 100 tokoh yang paling berpengaruh di abad ke-20. 

Bill Gates, keluar dari Harvard untuk memulai perusahaan, berhasil menciptakan revolusi personal computer melalui Microsoft, dan kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia. 

Mereka adala Outlier, dan persamaan mereka terletak pada 10.000 jam. 

Sebelum para wanita digilai karena menyanyikan “Love Me Do”, The Beatles menerima kontrak untuk bermain di sebuah bar, di Jerman. Kontraknya bukan main lamanya, The Beatles ngeband selama 1.2oo kali dari tahun 1960 – 1964. 

Coba bayangkan pekerjaan ini, tentunya tidak mudah. Saat itu The Beatles belum memiliki banyak hits. Mereka hanya dipandang band biasa. Dan, setiap harinya mereka memainkan deretan lagu yang kurang lebih sama. 

Bukankah akan membosankan kalau itu dilakukan terus menerus selama 5 tahun? 

Jawaban: Ya, tentunya super membosankan. Namun, justru The Beatles memanfaatkannya untuk berlatih. Awalnya, mereka memainkan lagu sesuai dengan kebiasaan. Kemudian, masing-masing personel memberikan sentuhan berbeda pada lagu itu, seperti jazz dan blues. Lagu yang sama berubah menjadi berwarna. Dari hari ke hari penampilan The Beatles semakin baik. 

Begitu pula dengan Bill Gates. Ia berasal dari keluarga yang cukup berada, maka ia masuk ke SMP swasta berprestise. Pada tahun 1968, komputer adalah barang baru, langka, dan mahal luar biasa. Beruntungnya, SMP tersebut memiliki akses dan dana untuk membeli sebuah komputer. Dalam masa itu, hanya segelintir orang yang bisa mencoba komputer. Bill Gates memanfaatkan kesempatan langka ini dengan baik, ia mempelajari pemrograman komputer secara tekun. Dan, sisanya telah menjadi sejarah. 

Bill Gates dan The Beatles memiliki kesempatan yang unik untuk berlatih. Saat band anak muda lainnya baru beberapa kali tampil, The Beatles sudah menghabiskan 10.000 jam lebih di atas panggung. Saat remaja lain tidak pernah menyentuh komputer sama sekali, Bill Gates sudah mempelajari komputer selama 10.000 jam lebih. 

Berdasarkan penelitian Anders Erricson, Malcolm menyimpulkan bahwa kunci sukses di bidang apa pun, terletak pada latihan dalam suatu hal yang spesifik selama 10.000 jam (dapat dicapai dengan 20 jam kerja per minggu selama 10 tahun). 

Ayo mulai 10.000 jam untuk capai cita-cita kita

 

Coba bayangkan apabila nasib kedua tokoh tersebut sedikit diubah. Apabila The Beatles menolak kontrak dari bar Jerman, mungkin kini kita tidak mengenal lagu-lagu mereka. Apabila Bill muda tidak masuk ke SMP tersebut, Bill akan tetap tumbuh menjadi orang yang pintar, namun tidak dikenal sebagai miliader. 

Konsep keberhasilan yang diungkapkan Malcolm, sungguh sederhana namun membutuhkan komitmen besar untuk mencapainya. Saya pun semakin percaya bahwa “Keberuntungan adalah Kesempatan bertemu Kesiapan” 

Ucapan Aristotle di awal, “We are what we repeatedly do” terasa sinkron dengan hukum 10.000 jam. Dengan pertimbangan dua teori ini, ada baiknya kita berintrospeksi kebiasaan tertentu yang dapat menjadikan kita “ahli” di bidang tertentu. 

Apabila kita “rajin” bergosip, maka setelah 10.000 jam bergosip, kita akan menjadi raja gosip. Namun, siapakah orang yang mau dikenal sebagai raja gosip? 

Apabila kita suka sekali bermain sepak bola. Maka, akan sangat mungkin dalam sepuluh tahun mendatang timnas Indonesia unggul di Piala Dunia. Iya kan? 

Hapus kernyitan dahi itu karena menganggap omongan “sepak bola” itu bagai mimpi di siang bolong. 

Impian ini kan masih mungkin terlaksana. Ya kan? 

Salam positif, dan selamat mencapai latihan 10.000 jam kamu! 

A journey of a thousand miles begins with a single step 

-Lao Tzu- 

Nyali!

Hari ini adalah hari yang lumayan padat…

Siang hari, saya dan teman-teman panitia Ajou melakukan interview akhir dengan tujuh besar kandidat yang kiranya akan dikirim ke Korea pada semester musim semi. Mereka hebat! Mereka menampilkan berbagai kesenian daerah, mulai dari tari jaipong sampai tari saman.. Dari main suling sampai nyanyi lagu sunda “borondong garing”.

Hal yang membuat kami, para juri sedikit sedih adalah, kita hanya memiliki sedikit kuota untuk diberangkatkan ke Korea. Padahal, ketujuh kandidat telah melakukan yang terbaik.

Di sebuah kafe, menjelang magrib, para juri pusing tujuh keliling untuk menentukan siapa yang pantas masuk. Ya… namanya juga beda orang beda pikiran ya… Kita mencoba sekeras mungkin untuk memilih.. Kita sampai debat heboh yang menguras energi.. Tapi, masih dalam batas sewajarnya. Toh, akhirnya kita memiliki cara bijak untuk menentukan siapa yang pantas masuk, yaitu dengan ….  (piiiiipppp…) rahasia.

Selanjutnya, malamnya saya bertemu dengan Tami dan Bob Howarth, seorang dosen jurnalistik dari Australia yang lagi menjadi dosen tamu di Fikom Unpad. Kita menghabiskan malam dengan makan dan diskusi seru di Duck King.

Kemudian, saya pulang jam 11. Dan teringat : Paraah… saya belum menulis untuk hari ini! Padahal, saya baru ber”sumpah palapa” kemarin. Maka, saya pun mencoba menulis sesuatu yang praktis dan sangat mengena dihati saat ini, yaitu tentang keberanian.

Apa itu keberanian?

Saya banyak belajar keberanian saat menjadi juri di seleksi mahasiswa Unpad ke Ajou University Korea. Saya adalah alumni program ini, maka saya ikut bersama alumni lain untuk membantu. Awalnya saya pikir ” Ah… mudah milih orang. Tinggal liat nilai, bakat, sikap. Mungkin, mirip dengan konsep orang tua jaman dulu milih jodoh untuk anaknya “bibit, bebet, bobot”.

Salah! Setiap mahasiswa memiliki karakter dan kemampuan yang unik. Para juri dibuat pusing untuk memilih, padahal kita sudah menggunakan sistem penilaian ala HRD perusahaan besar dan mendapat konsultasi dari ahli psikologi. Namun, urusan memilih delegasi tetaplah sulit.

Di proses seleksi semester Fall Ajou ini, kami sebelumnya telah memasang pengumuman di website Unpad. Saya sangat berharap teman-teman saya akan ikut program ini, karena banyak sekali teman saya yang bertanya tentang program ini dan sepertinya sangat berminat.

Nyatanya : hanya belasan orang yang mendaftar.

Muncul tanda tanya besar dalam otak saya. Kemana ya orang-orang yang kayaknya niat ikutan???

Akhirnya saya pun mendapat selentingan kabar.

Ada yang ga punya nyali buat ikutan.

Ada yang selama ini cuma iseng-iseng doang nanya. (Hmm.. sorry.. but I think, you’re kinda wasting my time, dude!)

Ada yang tidak mendapatkan info tentang tanggal seleksi ini.

Ada yang bilang: ” Ah… gue nggak ikutan. Katanya, kuota buat semester fall ini cuma satu orang ya? Persaingannya berat!”

Bagi saya, dari keempat alasan yang saya sebutkan. Alasan yang paling menohok dan menusuk saya adalah alasan terakhir. Alasannya, ia pasti punya niat ikutan, tapi nggak punya nyali?

Come on! Persaingan berat kadang membuat lutut bergetar sampai berkucuran keringat di pelipis, tapi kita pun sejak sebelum lahir sudah bersaing. Maaf kalau kata-kata saya terlalu porno. Sebelum menjadi bayi, kita adalah embrio yang kecil. Embrio bisa tercipta karena ovum yang dibuahi sperma.

Fakta dari suaramedia.com : Dari 300 juta sel sperma, hanya terdapat sekitar 1.000 sel sperma yang berhasil mencapai sel telur (ovum). Dari 1.000 sel sperma tersebut  1 SEL saja yang memenangkan pertandingan ini dan berhasil membuahi sel telur (ovum).

Jadi, sebelum kita lahir, kita sudah memenangkan persaingan yang ketat 1: 300.000.000 (banyak kan “nol” nya?) Menjadi “perenang” yang cepat dan tangguh menuju ovum. Keren kan?

Kembali ke topik. Saya sangat sedih karena teman-teman saya tersebut kalah sebelum berperang. Mengapa mereka begitu yakin akan kalah dalam bersaingan 1: belasan? Itu adalah angka yang relatif kecil.

Kamu nggak akan pernah tahu kalau kamu belum mencoba.

Keluarlah dari sarang ketakutanmu. Mari kita jadi penjelajah dunia!

Keluarlah dari sarang ketakutanmu. Mari kita jadi penjelajah dunia!

Untuk para kandidat yang telah ikut dalam seleksi Ajou Fall, saya acungi jempol. Walaupun mereka, mungkin, tidak lolos, namun mereka sudah menunjukkan kalau mereka berani (atau mungkin, nekat. Yang jelas, saya mengkategorikan nekat dalam taraf normal adalah etos yang baik)

Kepada tujuh kandidat, para panitia akan berusaha keras agar kalian semua bisa berkuliah satu semester di Korea. Apabila misi kami tidak tercapai, harap dimengerti. Dan, melalui pengalaman ini pun kalian telah dapat banyak tips wawancara yang bisa dipakai di dunia kerja. Iya, kan?

Terlebih lagi, sejarah sudah membuktikan bahwa sebagian orang-orang ternama menjadi sukses karena dia jatuh berkali-kali, namun terus bangkit dan belajar.

Nggak percaya? Silahkan lihat video ini:

(video ini bikin saya merinding tiap kali saya tonton)

Sekian dulu tulisan kedua saya dalam “Sumpah Palapa” kali ini. Karena tulisan ini dibuat dari jam 11 malam sampai jam 11.45. Jadi, saya harus segera upload curhatan ini sebelum berganti hari. Akan tetapi, jangan anggap ini tulisan asal. Ini adalah tulisan dari hati yang ditransfer ke otak, yang memerintahkan tangan untuk menekan-nekan qwerty pad di laptop.

I hope you, enjoy this.

Goodnight, and Goodluck (especially for the seven candidates of Ajou Fall Semester)