Penyamun Sebelum Ramadhan

Ini bukaanlah tulisan tentang Ramadhan.

Ini cerita tentang bagaimana saya menyadari kedatangan Ramadhan tahun ini dengan cara yang aneh.

Saya mengingatnya, ketika baru memandangi kaca mobil yang pecah, laptop dan alat operasi yang tersimpan didalamnya lenyap. Dan, mama saya mengatakan,” Ini sudah mau puasa ya, li.”

Beberapa minggu lalu, saya, mama, dan adik berkunjung ke rumah nenek di daerah Buah Batu. Saat itu malam, kami mengobrol dan makan bersama untuk menghapus lelah setelah berkegiatan di siang harinya. Kami menikmati momen yang ada. Saat beranjak pulang, kami baru tahu kaca mobil samping kanan pecah. Sepertinya, orang yang memecahkannya sudah ahli. Ia mencongkel kaca bagian atas sehingga pecahan kaca terjatuh ke luar mobil.

Mama langsung mencari barang yang tersimpan di bagasi. Laptop dan alat operasi lenyap. Laptop, dengan mudah mama merelakannya, namun alat operasi sulit. Harganya tidak murah. Untuk apa pula, pencuri itu membawanya?

Alat operasi itu puluhan metal kecil berbentuk sekrup. Pencuri itu akan sulit menjualnya. Itu hanya untuk kalangan terbatas.

Saya menatap jendela mobil tanpa kaca itu, jantung saya jantung yang keras dan cepat. Kalau saja kami pulang saat pencurinya masih ada di dalam mobil, saya benar-benar akan membawa pisau menusuknya, melempari dengan batu, sekaligus mencacinya.

Ya… Saya sangat marah. Namun yang bisa saya lakukan hanyalah berurusan dengan kerusakan dan kehilangan akibat pencuri itu.

Kami pulang mengendarai mobil itu. Saya memikirkan celetukan mama saya yang secara tidak langsung menghubungkan Ramadhan dengan kriminalitas. Memang, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebelum, saat, dan sesudah bulan puasa, kriminalitas meningkat. Saat itulah, para pencuri memanfaatkan kelengahan kita yang  bereforia menyambut momen itu.

Apakah memang benar pencuri ini ada kaitannya dengan Ramadhan? Sulit untuk mengetahuinya, namun saya tidak bisa menahan untuk membayangkan tentang si pencuri ini. ” Ya… Mungkin, dia butuh uang untuk pulang kampung, membeli tajil, baju baru untuk anaknya, membeli motor dan member ang pao untuk sanak saudaranya. Mungkin, dia tertekan,” ucap saya. Saya jadi teringat dengan kata-kata yang terlukis di belakang truk antar daerah, “Pulang Malu, Tak Pulang Rindu.” Mungkin saja, ia mendapat tekanan sosial dari keluarganya untuk tampil hebat dan kaya saat pulang kampung.

Loh.. kok saya jadi kasian ya?

Rasa itu bertambah ketika saya berita di televisi. Seorang pemuda ketahuan mencuri jemuran celana panjang. Warga kesal karena pencurian jemuran sudah sering terjadi. Makanya, pemuda itu dipukuli habis-habisan. Kalau melihat beritanya, dapat saya simpulkan, kamu ibu memarahinya, kaum bapak memukulnya babak belur, sampai mukanya bengkak dan ia menangis. Sementara, para anak-anak menyanyikan ejekan sambil bertepuk tangan saat sang pemuda itu digiring polisi.

Rasanya, menendang dan menusuk pencuri itu memuaskan. Tapi, kalau begitu, apa bedanya saya dengan masyarakat yang membuat babak belur maling jemuran? Karena keburukan seseorang, kita malah membuat kebatilan. Sama saja dengan tenggelam bersama-sama dalam dosa.

Saya mendoakan supaya pencuri itu dibukakan hatinya, mendapat pekerjaan yang baik. Dan apabila memungkinkan, ia memandang alat bedah itu tanpa arti sehingga membuangnya dan kami menemukannya. Apabila itu tidak terjadi, semoga mama saya dapat kembali membeli alat tersebut.

Pencurian itu membuat saya menilik tahun tahun belakangan ini. Keluarga kami lebih banyak mendapatkan kesenangan, rezeki, persaudaraan, pertemanan, dibandingkan hal-hal buruk, semacam ini. Kami terhitung masih beruntung karena pencuri tidak melukai kami. Anehnya, kejadian buruk sebelum Ramadhan ini malah menjadi penyadaran bagi kami sekeluarga.

Sekian cerita saya. Selamat datang kembali Ramadhan!

Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi momen kemenangan kita melawan kelemahan nurani dan keegoisan diri sendiri.

Imam

Cerpen ini adalah karya dari sesi menulis di RL Writers Circle bertemakan “Hari Raya”. Mungkin pembahasannya sedikit sensitif, akan tetapi saya jujur menulisnya berdasarkan pengalaman dan cerita di sekitar saya.

“Dan, bangun…” ujar Fira yang sudah siap shalat Ied. Ia menggoyahkan tubuh suaminya, Dani.

“Uh… ada apa?” Dani terlihat kesal. Ia masih luar biasa mengantuk setelah semalam menonton HBO.

“Lebaran sekarang!” Fira tersenyum pada pria yang dinikahinya delapan bulan yang lalu itu.

“Oh… ya… Selamat Lebaran. See you, dear… Aku masih ngantuk!” Dani menempatkan kepalanya lagi di bantal. Terpejam.

Fira terpaku melihat suaminya.

“Gitu aja?!?” Fira menimpuk kepala Dani dengan bantal.

“Huaah… kenapa, Fir?” Dani terusik.

Fira membisu.

“Selamat Lebaran, Minal Aidzin, Mohon maaf lahir batin. Cukup kan? Maunya aku ikut kamu shalat juga?!?” Sorot mata Dani menajam.

Fira menyerah, menyeret dirinya keluar kamar, dan membanting pintu. Ia mengenakan sandal kulitnya dan berjalan ke masjid dekat rumah. Pakaiannya yang serba putih terasa tidak sesuai dengan matanya yang penuh bara dan hatinya yang menggeram.
Fira berpikir, sepertinya ia melakukan kesalahan besar. Menjadi anak durhaka dengan menikahi Dani, teman kerjanya di bank yang Manado – Kristen, sehingga melukai hati ayah ibunya: pasangan dari Blitar yang ngefans berat dengan Alwi Shihab.

Ayah Fira pernah berujar, “Mendapat suami itu adalah mendapatkan imam hidup.” Dan kini, sepertinya Fira tak yakin Dani bisa menakhodainya ke tujuan semua pasangan dalam dunia dongeng atau pun nyata: happily ever after.

Saat Lebaran dulu, Ayah, Ibu, Fira dan adiknya bersama-sama berjalan ke masjid, shalat bersama, bersalaman dengan tetangga, sungkem pada orang tua. Kemudian, Fira akan membantu ibunya memanaskan opor yang telah dibuat malam sebelumnya lalu menyantapnya bersama.

Kini, Fira berjalan sendiri. Tak akrab dengan tentangga, dan tidak berencana memasak opor. Menghampiri ke rumah orang tuanya pun Fira merasa sungkan.

Masjid terlihat penuh. Fira menggelar koran dan shalat di aspal jalan. Shalat usai. Ia bersalaman dengan puluhan tentangga yang kurang dikenalnya, dan menjawab puluhan tanya, “Kok suaminya ga ikut?” Setiap tanya menambahan bubuhan garam di hatinya yang tersayat.

Fira memilih pulang cepat, meninggalkan gerombolan tentangga yang punya kehidupan sempurna. Ia sedikit berlari seperti anak kecil sambil meremas bungkusan mukenanya. Saat memasuki rumahnya, ia berencana menangis sendiri di kamar mandi. Tapi ada sesuatu yang lain.

Hidung Fira mencium wangi yang sangat dinantinya, opor! Di dapur, ia menemukan seorang pria berbaju koko sedang memasak.

Dani menoleh ke arahnya, “Fira, sori ya yang tadi. Aku rada sakit kepala tadi,”

Fira terpaku.

“Ini, kemaren di Alfamart nemu bumbu instan opor ayam.” Dani mencicipinya, “Hmm… tapi kok beda ya sama yang ada di restoran?”

Fira tergelak.

Setelah mereka makan opor yang rasanya tidak karuan, Dani mengambil kamera digitalnya dan mengarahkan lensa pada wajah keduanya.

“Hmm.. kok kamu diem aja sih? Foto keluarga dulu… Senyum!”  Dani mencontohkan senyum lebarnya.

Klik!

“Oh… bentar!” Dani memakai kopiahnya. “Kata orang yang di toko, ini satu paket model baju koko eh… siapa itu? Ustad yang terkenal..”

“Ustad Jeffry! Uje” jawab Fira.

“Iya!”

Klik!

Di cetakan foto tampak Fira yang cantik tiba-tiba mencium pipi “Uje”-nya.

***

Dewa Google

Sumber: http://www.padang-today.com/?today=news&id=21558

Saya punya adik kecil bernama Kiki (kelas 5 SD) dan Disa (kelas 1 SMP), kemarin siang saya mendengar dari kejauhan obrolan mereka.

 

Musik pop plus rap terdengar.

KIKI: Ini kan lagunya Eminem!

DISA: Bukaannnn!!!! Ini Rihanna!

KIKI: Bukaaaannn!!!! Cek aja di Google!

Kiki mengetik.

KIKI: Tuh, kan gak ada.

Disa menghampiri Kiki.

DISA: Nulis Rihanna-nya pake “N” dua, Ki!

Disa mengetik.

DISA: Tuh.. kan bener!
Lagu itu berjudul “Love The Way You Lie” yang dinyanyikan Eminem dan Rihanna.

 

Dari obrolan + debat Disa dan Kiki, saya menjadi ingat lagi saat kecil dan berantem dengan adik saya, Indra (sekarang dah kuliah). Dulu kami suka memperdebatkan hal kecil, dan masih mendengarkan lagu anak (bukan semacam lagu dewasa yang dinyanyikan penyanyi wanita yang pernah dipukul pacarnya dan rapper bermasalah, yang video klipnya mempertontonkan Megan Fox yang seksi).

Saat saya dan Indra berdebat (dan biasanya berujung dengan perkelahian), kami selalu berkata ” Tuh, kalo ga percaya tanya aja Mama/Papa!!!” dengan wajah nyolot. Sepuluh tahun kemudian, adik-adik kecil saya menggunakan kata yang tak jauh berbeda. Hanya saja, kata “Mama/Papa” diganti dengan “Google”.

Oh… saya pun dan banyak orang kini bergantung kepada search engine yang satu ini. Untuk cari referensi tugas, cari orang, cari torrent, cari episode terbaru dari Glee season 2, dan lain-lain. Kemarin, saya menghadiri acara The Beatles Night di Hotel Hyatt. Ketika MC memberikan pertanyaan super njelimet tentang The Beatles, saya tergoda membuka browser di ponsel saya, dan mengetikkan kata kunci pertanyaan di halaman Google.

Google…Google…Google…

Si Dewa Google.

Dewa di Era Informasi!

Cinta hingga di Penghujung Usia

Beberapa orang yang memiliki pemahaman agama tertentu beranggapan,” Kenapa ulang tahun dirayakan? Semakin tua kita maka umur semakin pendek.”

Apa anggapan Anda tentang ini?

Bukan bermaksud melawan, tapi saya punya paradigma yang jauh berbeda.

Memang tiap hari umur kita memendek, semakin tua, yang tadinya segar jadi keriput, yang tadinya lincah jadi lemah. Tapi tetap saja, saya berharap melaluinya dengan bahagia… bukan ratapan bahwa sebentar lagi akan masuk ke liang kubur.

Oleh karenanya, ketika keluarga dan teman saya ada yang ulang tahun, saya semakin mencintai mereka dan berusaha memberikan pesta terbaik.

Saya ingat, dahulu kakek saya dengan romantisnya memainkan piano sambil bernyanyi saat nenek saya ulang tahun. Keluarga besar kami berkumpul diantara sepasang sejoli yang puluhan tahun dimabuk asmara itu. Mereka saling menempelkan pipinya dengan hangat. Itu yang saya ingat.

Tak lama kemudian, kakek saya meninggal. Saya yang saat itu masih SD menangis tak keruan, dari mulai jenasahnya sampai di rumah, disholatkan, dimasukan liang kubur sehingga menyatu dengan tanah. Saya menangis karena kehilangan seseorang yang mencintainya dengan khas.

Kakek saya adalah dosen yang cukup tegas, ayah dari tujuh orang anak, dan seorang suami romantis. Ia tidak begitu religius tapi sangat pengasih. Kadang ia galak, memarahi saya karena manja atau tak mau berbagi. Tapi belakangan saya tahu, kakek saya berusaha membahagiakan saya. Bila saya mau makan di restoran ini atau itu, ia hampir selalu mewujudkannya.

Apabila saya dapat mengulang waktu, saya berharap dapat memberikan pesta-pesta ulang tahun yang lebih meriah bagi kakek saya. Merayakan semua cinta yang ia berikan selama bertahun-tahun. Cinta yang lebih banyak ia lakukan dibanding katakan.

Kini, nenek saya tidak mendapatkan dentingan piano dan nyanyian kakek saat ia berulang tahun. Tak masalah, saya dan keluarga berusaha memberikan pesta terbaik, walau pun tak mampu menyaingi nyanyian kekasihnya.

Bagi yang tetap pada pendiriannya untuk tidak mengucapkan atau merayakan ulang tahun, silahkan. Saya tidak bermasalah dengan itu.

Yang jelas, saya ingin menyayangi keluarga dan teman sepanjang tahun. Dan, saat mereka berulang tahun, saya ingin menghujaninya dengan nyayian, pelukan, cium, dan senyuman terhangat… hingga di penghujung usianya.

 

Didedikasikan untuk kakek saya, dan seorang teman yang baru kehilangan kakeknya.

UASEP Experience

Berminggu-minggu, saya sudah meninggalkan blog ini… Rasanya cukup jahat juga… Dan dikepala saya langsung terngiang lagu Bang Toyib.

Apa yang saya lakukan selama menghilang?

Kuliah dan UTS. Yang ternyata kurang seru lagi karena kawan-kawan lama telah menghilang. Untungnya, masih ada anak angkatan 2007 yang asik dan gokil.

Selanjutnya liburan kuliah tidak saya pakai buat ngambil job training di media cetak atau membetulkan nilai “kurang membahagiakan” saat semester pendek.

Saya mengurus Unpad-Ajou Summer Program, yaitu program dua minggu kunjungan mahasiswa Ajou University, Suwon ke Unpad. Tahun lalum saya sempat menjadi seksi dokumentasi. Dan tahun ini kebagian posisi koordinator.

Sungguh… setelah menjalaninya, saya jadi menyadari beratnya beban yang dipikul koordinator tahun lalu. Komitmen yang dijalankan untuk acara ini sungguh besar. Bolak-balik Unpad hampir tiap hari, e-mail dan teleponan dengan orang Ajou. Belum lagi urusan surat menyurat dengan berbagai departemen di Unpad. Program summer ini berdasarkan MOU dua universitas, jadi artinya saya harus berhati-hati membawa nama kampus.

Tanggung jawab besar, tunjangan tak ada. Saya pun harus mengeluarkan banyak uang untuk konsumsi selama acara. Masalahnya, saya nggak mau anak Korea sakit perut gara-gara makan di pinggir jalan. Alhasil, selama dua minggu saya hijrah dari resto satu ke lainnya dan mencari makanan terrrmuraahhh!!

Akhirnya acara summer tersebut selesai, 15 anak Korea berhasil diajak berpetualang ke Bandung – Ciwidey – Pangandaran. Momen yang paling berkesan dan membuat tegang adalah saat body rafting di Green Canyon. Kita harus mendaki tebing curam dan licin, dan menyerahkan nasib kita di liukan gelombang dasyat sungai. Semuanya serba minim alat pengaman. Daki tebing curam aja, tubuh kita tidak diikatkan ke tali!!  Salah seorang peserta perempuan bilang ke saya, “Andaikan saya dateng ke Green Canyon bersama pacar, pasti saya nggak akan putus dari pacar saya. Karena kami sudah melewatkan pengalaman sangat berkesan bersama”

Akhir kata, anak-anak itu kaget, takut, sekaligus puas menghanyutkan diri di Green Canyon.  Acara selesai, kami memberi salam perpisahan di Bandara Soekarno-Hatta. Target utama acara ini tercapai: mereka pulang dengan selamat.

Kalau boleh jujur, ngurus acara ini stress-nya gede banget. Namun, saya tetap senang bisa mengajak anak Korea kenal tempat tinggal saya.  Saya merasa berhutang budi, karena saat berkuliah di Ajou, saya mendapatkan banyak kebahagiaan dan pengalaman.

Saya sungguh mensyukuri pengalaman ini. Membuat saya tahu mengenai surat menyurat, regulasi, tawar-menawar, premanisme, menahan depresi, dan keahlian aneh lainnya.

Selama menjalani badai cobaan yang berat dalam acara ini, saya berucap dalam hati:

Sesuatu yang tidak membunuhmu, menguatkanmu.

Dan, terbuktilah itu benar. Saya masih berada di sini. Alhamdulillah.

Thanks untuk seluruh panitia T’Windu, Tami, Habibi, Cinthya, Ragil, Yudha, Sandra, Achmad, Adit, Kiran dan  Pipit yang sudah bekerja dengan penuh dedikasi dan tetap tersenyum saat kita menghadapi kesulitan.

Thanks buat Mama dan Papa yang sudah mengajarkan taktik dan kiat menjadi preman. :P

Last but not least, Hubby yang super baik, penolong, dan sanggup menerima ejekan dari saya. You’re can be my work partner and boyfriend at the same time. Love u, hub!

Ups and Downs

Sepertinya saya telah melanggar janji saya dengan sangat parah..

Gagal menulis 20 hari full..

Kalau bicara alasan, ada banyak yang bisa diungkapkan..

Namun apa pun alasannya, tetap saja saya salah karena tidak memenuhi janji saya..

Maka, apa yang harus saya lakukan?

Saya harus menanggung hukuman, walau belum tahu hukuman itu apa. Pacar saya beride: kalau menang kan seharusnya saya makan di Fashion Pasta. Kalau kalah lebih baik tetap di Fashion Pasta, tapi saya yang bayarin makan dia. Saya cuma tersenyum kecil. Hmm… pinter juga dia..

Apakah anda setuju dengan hukuman ini?

Atau, ada hukuman lain? Asalkan jangan berhubungan dengan olah raga, moga-moga saya bisa…

Hihihi….

Dan tolong doanya agar saya rajin menulis kembali ya…

Amien.

Drama Mundur: Fernando Costra Sang Matador Maut

Selama menulis di blog ini, saya belum membagikan jenis tulisan fiksi, yang merupakan passion saya. Di masa depan nanti, saya ingin menjadi pencerita, baik dalam film atau pun tulisan. Maka, saya sejak kini telah berlatih menulis bersama teman-teman penulis muda di Reading Lights Writer’s Circle.

Setiap sabtu kita berkumpul dan saling berbagi cerita. Sabtu kali ini, Andika sang moderator memberikan tema menulis alur mundur. Ya, mundur seperti jalan moonwalk Michael Jackson. Otak saya sempat tersendat ketika mencari ide. Yang ada dipikiran saya adalah menceritakan cara membuat kopi dengan alur mundur.

-          Aduk kopinya

-          Masukan air panas

-          Campur dengan 2 sendok gula

-          Masukan 2 sendok kopi

-          Sediakan cangkirnya

Aneh bukan?

Peserta lain pun mengalami hal yang sama. Alhasil, kami membutuhkan waktu sejam untuk menulis (rencana awalnya 30 menit saja). Dan, voila.. jadilah sebuah tulisan yang terinspirasi dari pembalap penantang maut.

Saya mendapat giliran pertama membacakan. Sehabis mendengar cerita Sapta yang duduk di sebelah, saya bergegas pergi. Ayah saya ulang tahun.

Saya cukup menyesal tidak bisa mendengarkan cerita teman lainnya. Semoga saya dapat membacanya di blog Writer’s Circle: http://rlwriterscircle.blogspot.com/

Kali ini saya akan mengisahkan cerita yang saya tulis, mengenai matador maut Fernando Costra. Silahkan dibaca dan memberi komentar.

Babak III

“Dan inilah saudara-saudara… Penantang maut kita! Fernando… Costra!” suara itu menggemakan Las Vegas. Selanjutnya, terdengar gemuruh ribuah penonton yang memenuhi halaman kasino Caesars Palace.

Sang jagoan muncul dengan motor sport yang menderu suaranya. Dialah sang petir, sang raja nyali, sang matador maut: Fernando Costra. Tubuhnya dibaluti dengan kostum kulit ketat berwarna merah-hijau. Di lengannya berjuntai benang-benang emas, layaknya kostum Elvis Presley.

Fernando lebih dari seorang pembalap maut, ia bintang. Saat pembalap lain mengenakan kostum kulit putih polos, Ia menarik perhatian dengan kostum semarak warnanya. Fernando lalu mengelilingi para penonton sambil melambaikan tangan , membuat wanita-wanita berteriak histeris.

Fernando sudah cukup melepaskan hasrat narsisnya, ia menghadap santapan utamanya. Di depannya sebuah landasan menukik tajam, lalu ada 28 mobil berjejer. Diakhiri dengan landasan landai menurun.

Fernando mengenakan helmnya yang bertuliskan “El Matador”. Saat menggerakan tuas gas, ia merasa sedikit linu tangannya. Selain itu, ia tidak nyaman dengan tulang bahunya yang bergeser.

Fernando mengucapkan doa terakhir, memegang kalung salib dari ibunya. Dan, ia melaju. Kencang sekali!

Fernando mulus melewati landasan dan terbang. Semua penonton mendongakkan kepala tertegun. “15 mobil, 20 mobil, 25 mobil, dan….. Ya! 28 mobil!” ujar sang presenter berkumis.

Tapi Fernando berada terlalu rendah. Ia mengantukkan tubuhnya ke landasan, bersalto acak 3 kali, meremukan sekujur tubuhnya. Motor melayang ke atas tubuhnya. Ban motor seakan menampar kepalanya dengan keras. Menghilangkan seluruh memori indah dan sakit di kepalanya.

Sang El Matador pun tewas di arenanya sendiri.

Babak II

Fernando adalah bintang baru, jagoan balap yang memiliki wajah Latin nan eksotis. Kalau orang mengenalnya saat ia kecil, orang tidak akan percaya anak miskin Meksiko ini bisa merajai tanah harapan, Amerika.

Bulan lalu, ia baru saja mengalahkan lompatan motor terjauh : deretan 20 mobil. Menjadi pemegang rekor adalah sebuah kenyamanan: dapat kontrak iklan bir, rumah mewah, minuman, wanita, semuanya! Namun, Fernando tak mudah puas.

“Aku ingin membeli rumah lagi di Miami, tepat di depan pantai!” ujarnya.

Maka, ia pun memilikinya.

Fernando berencana tinggal di rumah barunya selama seminggu saja. Di hari pertama, ia dikejutkan dengan kehadiran pelayan wanita di rumah tersebut.

“Isabel?” ujar Fernando.

Isabel dengan seragam pelayan putih abunya tertunduk malu,” Ya… aku melihatmu di TV. Kau terbang diatas mobil-mobil itu. Kau hebat seperti impianmu saat masih kecil. Andai aku tahu kau pemilik rumah ini, aku tidak akan berani bekerja di sini. Kau terlalu hebat dan aku bukan apa-apa, Fernando..” jelas Isabel.

Isabel adalah cinta pertama Fernando. Mereka bertetangga di Meksiko. Saat mereka masih kecil. Sebelum, Fernando muak dengan kemiskinan dan meninggalkan Isabel untuk ke tanah harapan.

Isabel kini hanyalah pelayan, pekerjaan yang masuk akal bagi para imigran. Ia telah bersuamikan seorang pencuci piring restoran, seorang Meksiko juga.

Di tengah perbedaan itu, Fernando dan Isabel tidak dapat membendung rasa. Mereka menghabiskan malam-malam yang hangat di rumah pantai itu.

Isabel pulang di hari keempat, dengan janji akan kembali keesokan harinya.

Esok pagi, Isabel datang dengan muka memar. Suaminya tahu ia berselingkuh. Fernando mengajaknya untuk bercerai dan menikah dengannya. Namun itu tidak mungkin. Dahulu sang suami menanggung hidup orang tua Isabel. Ia terlalu berjasa. Fernando pun berusaha sekuat tenaga mematikan hasratnya pada Isabel.

Tiga hari kemudian, di New York Times diberitakan seorang wanita keturunan Meksiko ditemukan tewas dipinggir jalan tol. Tubuhnya penuh memar.

Fernando menjadi gila.

Ia mencari sang suami di restoran tempatnya bekerja. Memukuli pria itu sambil menangis dan berteriak “Kau pembunuhnya, kau pembunuhnya!”

Fernando ikut babak belur. Tangan dan punggungnya memar. Tak lama kemudian, Polisi datang dan menangkap sang suami atas tuduhan pembunuhan. Fernando, dengan bantuan pengacara hebat bisa bebas.

Dua hari lagi, ia harus melompati 28 mobil. Namun, Fernando terlanjur menjadi sakit dan kosong.

Babak I

Dua anak bermain di antara perumahan kumuh. Hanya ada tanah merah, kaktus, dan sengatan matahari. Namun, dua anak itu begitu ceria. Seakan memiliki semuanya.

“Isabel!” ujar Fernando kecil.

“Ya … apa?” balas seorang gadis manis.

“Lihat itu, motor pak polisi di depan rumah Ignacio.”

“Lalu, kenapa?” balasnya lagi dengan nada heran.

“Kuncinya tergantung! Ayo kita naiki!” ujar Fernando bersemangat.

“Itu berbahaya!”

“Ayolah Isabel. Ada aku disini. Semuanya akan aman.”

Maka, keduanya pun sembunyi-sembunyi menunggangi motor tua itu. Fernando memutar tuas gas. Sementara, Isabel memeluknya erat dari belakang.

“Nggeeeeeenngg….!!!” Motor melaju kencang di atas tanah berdebu. Fernando dan Isabel berteriak girang. Batu yang mengenai ban, membuat motor tidak seimbang. Motor jatuh. Fernando dan Isabel tersungkur.

Pak polisi baru saja menyadari apa yang terjadi, ia berlari menghampiri.

“Isabel? Isabel! Kau tidak apa-apa?” Fernando memandangi Isabel yang telungkup di tanah.

“Aduh… tanganku!”

Fernando melihat lengan yang sedikit membiru,”Oh… tidak apa. Mamaku punya obatnya”

“Fernando, tapi kepalamu.” Darah segar menetes dari pelipis Fernando.

“Tidak apa..”

“Fernandooo… hiks..” Isabel menangis sedih.

“Jangan menangis. Lihat ini. Ini cuma darah. Ini tidak sakit.” Fernando meyakinkan Isabel yang tetap menangis.

“Aku tidak kesakitan, Isabel. Aku tidak menangis. Di dunia ini hanya ada satu hal yang dapat membuatku menangis!” ujar Fernando dengan lantang.

Isabel berhenti menangis, “Apa itu?”

“Kamu, Isabel…” Fernando menjawab.

Isabel tertegun.

Tidak lama kemudian, pak polisi datang. Ia marah bukan main. Ia menjewer kuping Fernando sambil menariknya ke kantor polisi.

Fernando tetap tidak menangis menahan jeweran dan robekan di kepalanya.

Yang penting, Isabel baik-baik saja.

***

Hot-POP-Stuff: Entertainment

Setelah kemarin membahas mengenai sesuatu yang nge-POP di Indonesia, saatnya kita beralih pada sesuatu yang lebih global, bersinar, terkenal, dan mewah: Entertainment!

Jangan ragukan kekuatan entertainment alias dunia hiburan. Sejarah telah membuktikan bahwa entertainment bisa membuat orang membayar mahal untuk menonton konser 2 jam, menyihir ABG labil tergila-gila, menghasilkan bisnis merchandise yang bagus, dan limpahan uang hanya dengan…..pesona.

Kini, saatnya mengenal beberapa bintang yang bikin heboh tersebut. Check it out!

1. Lady Gaga 

Lady Gaga adalah pusat perhatian dengan segala karya uniknya. Gosip bertebaran tentangnya. Ada yang bilang ia berkelamin ganda. Hmm.. jelas itu tidak benar.

Ada satu video klip Lady Gaga dan Beyonce yang ajaib dan kejam. Inilah cara termudah untuk menjelaskan Lady Gaga. Silahkan menonton.

Lady Gaga ikut menyumbangkan banyak ide untuk video ini. Alhasil, video “Telephone” tidak hanya menampilkan kisah teleponan antar kekasih yang standar. Ada kekejaman, kecantikan, misteri, dan potongan dialog yang absurd. Kalau diperhatikan terdapat gaya film Kill Bill-nya Quentin Tarantino di sini, misalny saat Lady Gaga dan Beyonce menyetir mobil.

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan Lady Gaga: Ajaib!  Saya percaya, untuk menjadi penyanyi beken masa kini, suara merdu saja tidak cukup. Suara Lady Gaga memang tidak terlalu spesial, namun berhasil ia balut dengan konsep pakaian, imej, dan video klip yang membuat orang memperhatikannya. Ia pun menjadi aktivis gay dan chief creative officer perusahaan Polaroid.

Untuk lebih meng-ekplore kegilaan Lady: tonton video klip “Bad Romance” dan “Papparazi”

2. Justin Bieber

Dia 16 tahun. Mendapatkan ketenaran dadakan setelah meng-upload video menyanyi di Youtube. Jadi artis pertama yang 7 lagu dari album debutnya bertengger di daftar Billboard’s Hot 100. Albumnya meraih Platinum.Dialah Justin Bieber.

Lagu “Baby” miliknya sangat mudah dicerna kuping dan teringat di otak. Enak dinyanyikan untuk kareokean. Justin punya banyak fans ABG hingga orang dewasa. Bahkan, Kim Kadarshian jelas-jelas mengaku suka Justin. Di tengah segala gemerlap tentang bintang remaja Kanada ini, ada sedikit kekhawatiran terselip.

Sejarah sudah membuktikan bahwa popularitas dapat memberikan efek yang luar biasa pada seorang anak.

Masih ingat film Home Alone? Anak lucu yang membintanginya adalah Macaulay Culkin. Setelah era kejayaannya lewat, Macaulay menikah di usia 18 tahun, tak lama kemudian bercerai, dan pernah tertangkap membawa mariyuana. Macaulay bersahabat dengan Michael Jackson. Michael memiliki nasib yang tidak jauh beda. Sedari kecil jadi bintang berkat bakatnya menyanyi. Dan, selanjutnya… kita semua tahu tingkah laku aneh Michael.

Apakah Justin Bieber akan menemukan happy ending dalam karier dan kehidupannya?

 

4. Glee

Saya mulai mengenal Glee ketika lagu “Don’t Stop Believin’” santer diputarkan di radio. Juga, karena beberapa teman dan saudara membicarakan serial ini. Maka, di suatu tempat, di toko dvd bajakan, saya membeli DVD serial Glee. Glee saat ini baru mencapai Season 1.  

Hasilnya, saya sangat menyukai. Dan saat ini mengidap ketagihan menonton Glee. Untuk lebih jelasnya, saya ceritakan proses ketagihan Glee tersebut. Saya pulang ke rumah jam 11 malam, jam 12 malam saya sudah siap di tempat tidur dan menonton Glee lewat laptop.

Dari episode pertama saja, Glee tidak bertele-tele. Ceritanya berjalan dengan cepat dan dinamis. Disertai dengan plot cerita romansa-komedi yang sedikit absurd namun keren. Glee menceritakan seorang guru yang mencoba membangkitkan klub Glee di sekolahnya. Klub ini beranggotakan anak nerd, anak berkursi roda, anak minoritas, atlet football sekolah, dan cheerleaders. Dengan berbagai perbedaan ini, banyak masalah yang muncul. Di sekolah, Glee pun mendapat perlawanan sengit dari guru Cheerleaders yang merasa terancam dengan prestasi Glee.

Klub muda dan tidak berpengalaman ini berambisi untuk menjuarai kompetisi menyanyi. Akankah mereka menang?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut ceritanya, karena saya sampai sekarang belum habis menonton serial 1 Glee. Yang jelas saya menyukainya, kemarin saya menonton Glee dari jam 12 malam sampai 4 subuh, saat mata saya mulai terasa kering. Begitu bangun, siangnya saya melanjutkan acara nonton. Dan, malam ini pun saya akan menontonnya lagi… :P

Menurut Wikipedia.com, Glee adalah jenis musik yang dinyanyikan oleh setidaknya tiga jenis suara, dan biasanya tidak diiringi instrumen.

Saya sangat merekomendasikan Glee, cerita dan karakternya unik, plot-nya bikin geregetan, dan yang lebih spesialnya adalah di dalam serial yang ditayangkan Fox ini, kita bisa menonton musik-musik lama yang dinyanyikan dengan gaya baru, misalnya lagu”Rehab”-nya Amy Winehouse dan “Mercy”-nya Duffy.

Sekian dulu obrolan tentang para bintang yang sedang naik daun ini.

Besok, akan ada Hot-POP-Stuff tentang kota yang tempat saya tinggal, makan, pacaran, kuliah,dan jalan-jalan: Bandung.

See you soon, Readers!

Hot-POP-Stuff

Saat saya tinggal di Korea selama empat bulan (Agustus-Desember 2009), saya begitu merindukan Indonesia. Untuk tahu perkembangan terbaru, saya sering buka Kompas.com, Detik.com, chat di Yahoo Messanger dan tentunya Facebook-an.

Berbagai cara tersebut cukup mengobati kerinduan saya. Tadinya, saya pikir walaupun tidak di Indonesia, akan tahu perkembangan terbaru dan tergaul di sana. Namun, saat saya pulang, ternyata banyak hal yang berubah. Dan, saya tidak mengetahuinya.

Dunia berubah dengan cepat. Itu hanyalah ilusi.

Yang sebenarnya terjadi adalah manusia terus berbuat berbagai hal sehingga tanpa sadar dunia pun diubah olehnya.

Hal yang paling membuat takjub ketika pulang adalah munculnya tren-tren di kalangan anak muda. Dan, sampai sekarang beberapa tren tersebut masih terjadi. Berikut ini beberapa item yang bikin heboh remaja Indonesia:

1. Blackberry

Blackberry tidak hanya menghubungkan orang yang berjauhan dengan koneksi 24 jam-nya, tetapi juga berhasil membuat “Blackberry Autism Syndrome”. Nggak usah cari di Wikipedia, istilah ini saya buat sendiri. Seenggaknya, kamu sering kan melihat orang sibuk sendiri dengan BB-nya dan lupa sekitar? Atau, itu terjadi pada kamu?

Ada orang yang bijak menggunakan BB, ada pula yang tidak. Namun, saya pernah melihat adanya korban dari sindrom ini. Suatu hari, di sebuah restoran di Bandung, datanglah se-grup keluarga siap bersantap. Mereka memesan makanan, lalu saat menunggu pesanan datang, BB pun jadi pelipur lara. Ayah, Ibu, anak laki, anak perempuan sibuk dengan BB. Yang menyedihkan adalah, mereka sedang bersama neneknya. Ujung-ujungnya, sang nenek malah dicuekin. :(  

2. Frozen Yoghurt

Saat saya jalan-jalan ke mall, sekarang jadi banyak toko yang menjual frozen yoghurt. Mulai dari J.Cool dari J.Co, Red Mango, Sour Sally, Yoghurt City, dll. Harganya pun lumayan menguras uang jajan 30-50 ribu. Tapi kok, banyak ya anak muda yang datang kesana. Apa makin banyak anak muda kaya?

Saya jadi teringat saat masa SMP, tumbuh tren toko Crepes. Di tiap mall, dimana-mana ada crepes. Dan, semuanya penuh! Kini, kita jarang menemukan toko crepes. Tren telah menyurut. Apakah frozen-yoghurt akan menemukan nasib yang sama?

Kalau sesuai pelajaran marketing sih, tiap produk ada life cycle-nya. Sederhananya, ada kelahiran-tren-penurunan-kematian dalam setiap produk. Untuk mengakalinya, sebuah produk harus diolah dengn inovasi. Nah, mari kita buat berinovasi!

3. Politik!!

Inilah topik yang paling ribet dan nggak ada ending-nya. Politik di Indonesia banyak warnanya, liukannya, kejutannya. Nggak jauh beda sama Dufan. Walau begitu, kita tetap harus tahu masalah ini.

Kalau kamu akrab ama BB dan Frozen Yoghurt, kamu anak gaul. Tapi, saat ditanya politik nggak tahu.. Orang akan meragukan isi kepala kamu.

Harus tetap up-to-date. Caranya buka koran, kompas.com, atau time.com. Gampang kan?

Sebagai tes, berikut ini nama-nama yang berkaitan dengan topik politik masa kini: Sri Mulyani, KPK, Gayus Tambunan, Susno Duadji, Aburizal Bakrie.

Kalau kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Jangan tunda lagi, cari tahu secepatnya.

4.   4l4y

Tentunya, kamu sudah tahu apa itu alay. Menurut saya sih, alay adalah sesuatu yang berhubungan dengan mencoba jadi gaul tapi gagal. Nulis pake huruf gede-kecil, diselingi 4n6k4 (angka), atau boros kata, misalnya “kaaamoee laaghiee appha siechh?”. Juga, ada kaitannya dengan musik: suka band alay yang seliweran di acara musik pagi, semacam Kangen Band, ST12, Armada, Daun, Wali, Angkasa, The Sisters, The Adlys, dan lainnya.

Kalau saya sih tidak menyalahkan atau membenarkan alay. Itu adalah pilihan style seseorang. Kalau alay masuk kedalam kepribadiannya, maka menjadi alay adalah hal yang tepat.

Berdasarkan ciri-ciri alay di atas, saya sebenarnya sedikit alay juga sih. Saya suka beberapa lagu ST12  :P

 

 

Sekian dulu postingan hari ini. Saya baru membahas 4 hal yang lagi “in” di Indonesia. Besok, saya akan buat bab 2 nya, mungkin. Jadi, kalau ada yang punya ide tentang apa yang harus dibahas. Silahkan share di sini.

Terima kasih.

 

Hukum 10.000 Jam = Outlier

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. 

-Aristotle- 

Mengapa segelintir orang bisa sukses, dan yang lainnya tidak? 

Apa persamaan antara The Beatles dan Bill Gates

Pertanyaan pertama, adalah pertanyaan yang sering muncul di benak kita. Dan lebih sering lagi muncul di pikiran orang yang baru saja gagal. 

Pertanyaan kedua, menyangkut dua nama besar dalam sejarah modern. 

Seluruh pertanyaan ini, saya dapatkan jawabannya dari buku Outlier karangan Malcolm Gladwell

 

Dalam buku ini, Malcolm memberikan berbagai kisah sukses dan gagal dari berbagai tokoh. Dan, membantu kita menemukan “benang merah” cara meraih keberhasilan secara perlahan namun pasti. 

Kita harus mengakui, bahwa di dunia ini banyak orang pintar. Tidak usah cari yang jauh-jauh, cari saja di kampus sendiri. Apakah ada mahasiswa yang IP-nya lebih tinggi dari kamu? Kalau kamu jenius banget, silahkan bandingkan IQ kamu dengan Eistein. Kalau ternyata kamu lebih pintar, seharusnya kamu sudah lebih terkenal dari Einstein :P  

Ternyata, tidak semua orang yang pintar itu pasti berhasil. 

Sebagai contoh, Malcolm menceritakan kisah hidup Christopher Langan, yang memiliki IQ 195. Kemampuan otaknya lebih tinggi dari Einstein yang ber-IQ “hanya” 150. Namun, dunia tidak pernah mengenal kehebatan Langan.  

Menurut, Malcolm penyebab kegagalannya adalah lingkungan yang tidak mendukung. Langan hidup di keluarga yang tidak harmonis dan sangat miskin. Orang-orang di sekitarnya pun tidak mengajarinya untuk berinteraksi dengan lingkungan. Langan mudah mendapat beasiswa, namun semudah itu pula terlepas dari genggamannya. Pada akhirnya, IQ fantastis yang tidak didukung lingkungan, tidak akan membuahkan keberhasilan. 

Lingkungan hanyalah salah satu faktor kunci yang diungkapkan Malcolm dalam bukunya. 

Dalam tulisan kali ini, saya hanya akan membahas faktor penting lainnya untuk menjadi seorang Outlier

Secara garis besar, Outlier adalah suatu keadaan atau variabel yang sangat berbeda dari variabel lainnya. Apabila istilah ini kita pinjam untuk menggambarkan seseorang, maka Outlier adalah orang yang memiliki pencapaian yang sangat mencolok dibandingkan orang kebanyakan. 

The Beatles adalah band yang terdiri dari empat pria dari Liverpool, mulai terkenal sejak 1962, menciptakan banyak lagu hits, hingga kini masih mendunia, dan masuk kedalam daftar 100 tokoh yang paling berpengaruh di abad ke-20. 

Bill Gates, keluar dari Harvard untuk memulai perusahaan, berhasil menciptakan revolusi personal computer melalui Microsoft, dan kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia. 

Mereka adala Outlier, dan persamaan mereka terletak pada 10.000 jam. 

Sebelum para wanita digilai karena menyanyikan “Love Me Do”, The Beatles menerima kontrak untuk bermain di sebuah bar, di Jerman. Kontraknya bukan main lamanya, The Beatles ngeband selama 1.2oo kali dari tahun 1960 – 1964. 

Coba bayangkan pekerjaan ini, tentunya tidak mudah. Saat itu The Beatles belum memiliki banyak hits. Mereka hanya dipandang band biasa. Dan, setiap harinya mereka memainkan deretan lagu yang kurang lebih sama. 

Bukankah akan membosankan kalau itu dilakukan terus menerus selama 5 tahun? 

Jawaban: Ya, tentunya super membosankan. Namun, justru The Beatles memanfaatkannya untuk berlatih. Awalnya, mereka memainkan lagu sesuai dengan kebiasaan. Kemudian, masing-masing personel memberikan sentuhan berbeda pada lagu itu, seperti jazz dan blues. Lagu yang sama berubah menjadi berwarna. Dari hari ke hari penampilan The Beatles semakin baik. 

Begitu pula dengan Bill Gates. Ia berasal dari keluarga yang cukup berada, maka ia masuk ke SMP swasta berprestise. Pada tahun 1968, komputer adalah barang baru, langka, dan mahal luar biasa. Beruntungnya, SMP tersebut memiliki akses dan dana untuk membeli sebuah komputer. Dalam masa itu, hanya segelintir orang yang bisa mencoba komputer. Bill Gates memanfaatkan kesempatan langka ini dengan baik, ia mempelajari pemrograman komputer secara tekun. Dan, sisanya telah menjadi sejarah. 

Bill Gates dan The Beatles memiliki kesempatan yang unik untuk berlatih. Saat band anak muda lainnya baru beberapa kali tampil, The Beatles sudah menghabiskan 10.000 jam lebih di atas panggung. Saat remaja lain tidak pernah menyentuh komputer sama sekali, Bill Gates sudah mempelajari komputer selama 10.000 jam lebih. 

Berdasarkan penelitian Anders Erricson, Malcolm menyimpulkan bahwa kunci sukses di bidang apa pun, terletak pada latihan dalam suatu hal yang spesifik selama 10.000 jam (dapat dicapai dengan 20 jam kerja per minggu selama 10 tahun). 

Ayo mulai 10.000 jam untuk capai cita-cita kita

 

Coba bayangkan apabila nasib kedua tokoh tersebut sedikit diubah. Apabila The Beatles menolak kontrak dari bar Jerman, mungkin kini kita tidak mengenal lagu-lagu mereka. Apabila Bill muda tidak masuk ke SMP tersebut, Bill akan tetap tumbuh menjadi orang yang pintar, namun tidak dikenal sebagai miliader. 

Konsep keberhasilan yang diungkapkan Malcolm, sungguh sederhana namun membutuhkan komitmen besar untuk mencapainya. Saya pun semakin percaya bahwa “Keberuntungan adalah Kesempatan bertemu Kesiapan” 

Ucapan Aristotle di awal, “We are what we repeatedly do” terasa sinkron dengan hukum 10.000 jam. Dengan pertimbangan dua teori ini, ada baiknya kita berintrospeksi kebiasaan tertentu yang dapat menjadikan kita “ahli” di bidang tertentu. 

Apabila kita “rajin” bergosip, maka setelah 10.000 jam bergosip, kita akan menjadi raja gosip. Namun, siapakah orang yang mau dikenal sebagai raja gosip? 

Apabila kita suka sekali bermain sepak bola. Maka, akan sangat mungkin dalam sepuluh tahun mendatang timnas Indonesia unggul di Piala Dunia. Iya kan? 

Hapus kernyitan dahi itu karena menganggap omongan “sepak bola” itu bagai mimpi di siang bolong. 

Impian ini kan masih mungkin terlaksana. Ya kan? 

Salam positif, dan selamat mencapai latihan 10.000 jam kamu! 

A journey of a thousand miles begins with a single step 

-Lao Tzu-