Kisah Sebuah Sendok

Suatu malam di kolong jembatan Teluk Gong, Jakarta..
Saya menginap di rumah seorang pengepul sampah..
Istrinya membuatkan mie instan untuk saya..

Ibu: Ya.. Lupa.. Harusnya air kuah mienya dibuang.. Kita ganti air termos.. Kan katanya kuah mie itu mengandung plastik.
(Sambil menuangkan mie rebus ke piring)

Saya: Ya.. Gapapa, bu.. Saya juga suka ga buang kuah mie-nya.
(Dalam hati: “Wah.. Ibu ini sadar kesehatan juga ya..”)

Saya menerima mie rebus dan langsung menyantapnya. Sang ibu duduk sambil memperhatikan saya makan.

Ibu: Saya ga pernah beli sendok loh.. (dengan nada bangga)

Diam sejenak.

Saya: Maksudnya gimana, bu? (Mengunyah ragu sesendok mie)

Ibu: Iya.. Orang itu suka buang sendok.. Padahal kan masih bagus.. Saya ambilin aja dari hasil mulung.. Paling cuma karat2 dikit.. Digosok pakai abu gosok juga hilang.. Lihat tuh sendoknya masih bagus kan? (Dikatakan dengan penuh percaya diri)

Sesendok mie yang sudah dikunyah tadi ditelan dengan berat hati.

Saya: Iya, bu.. Bener juga ya.. (Senyum dan tawa dibuat2)

Maka, dimulailah salah satu makan malam yang penuh cobaan.. Sampai akhirnya tidak ada mie tersisa di sendok dan piring itu..

Apa bedanya miskin di kota dan desa?

Baru pada usia 23 tahun ini, saya akhirnya bisa sedikit mengetahui rasanya miskin di desa dan di kota. Merasakan dalam hal ini, adalah tinggal bersama keluarga kurang mampu.

Memang benar, miskin di mana pun tak enak. Namun, setelah mengamati kehidupan miskin di Subang, Jawa Barat dan kolong jembatan Teluk Gong, saya terkejut sendiri melihat banyaknya perbedaan keduanya. Perbandingan ini tentunya tidak dapat digeneralisasikan pada semua desa dan kota.

 

1. Kamu siapa?

Penduduk desa umumnya terpusat dan terpisah kehidupan kota, seseorang cenderung tidak merasa miskin. Ia memiliki tetangga yang sama gaya hidupnya, sehingga merasa setara. Paling mungkin ia menyadari status ekonominya adalah saat menonton TV.

Di kolong jembatan Teluk Gong, penduduknya dapat melihat mobil mewah berseliweran di kanan kiri (bahkan di atas mereka). Walau tidak memiliki rumah layak, hampir semuanya memiliki TV dan intens menonton sinetron yang sering menampilkan kemewahan pula. Mereka benar-benar sadar lemahnya status ekonomi mereka.

2. Slum is a melting pot

Pemukim kolong jembatan Teluk Gong adalah kumpulan pendatang dari tanah Jawa dan Sunda. Sayangnya, mereka mulai meninggalkan bahasa daerahnya, dan berupaya membaur dengan berbahasa Betawi.

Kemungkinan lebih mudah menyelaraskan penduduk di desa, karena mereka sama-sama penduduk asli yang berbudaya dan berbahasa sama.

3. Dimana rumah sakit? Dimana mall?

Saya ingat, cerita seorang ibu hamil di desa. Di tengah malam, sang ibu baru melahirkan setengah jalan. Kaki dan perutnya sang bayi sudah keluar, tetapi kepalanya masih tertahan di dalam. Agar bisa bernapas, sang bayi harus cepat dikeluarkan. Tidak ada angkutan umum di malam hari. Keluarga sang ibu harus mencari pinjaman mobil angkot milik tetangga dan melalui jalan panjang ke pusat kota. Saat sang ibu sampai di rumah sakit, sang jabang bayi sudah tidak bergerak.

Tidak sulit bagi penduduk miskin kota mencari rumah sakit. Rumah sakit pemerintah hingga yang mewah menjulang di sekitarnya. Masalahnya, mereka harus berlomba dengan bejubel penduduk miskin kota untuk mendapatkan pelayanan kesehatan murah secepatnya.

4. Tanah, air dan udara

Walau secara akses sulit, desa menyediakan “kemewahan” udara segar, lahan bersih dan air jernih. Bahkan, air selokannya pun yang jernih.

Saat tidur di kolong jembatan, kita mendengar mobil yang melewati jembatan sepanjang malam. Di saat yang bersamaan, kita dapat mencium bau air hitam kelam, di kali yang tidak mengalir. Nyamuk-nyamuk yang bebas berkembang biak di kali, mengganggu lelapnya. 24/7 kita dipaksa menghirup udara beraroma knalpot kendaraan.

 

Setelah mencicipi kehidupan kekurangan di desa dan di kota, saya rasa miskin di kota lebih menderita. Seseorang menjadi sepenuhnya sadar bahwa ia berada “kasta terendah” dalam masyarakatnya, harus menyesuaikan diri dengan budaya Jakarta dan hidup di tengah polusi.

Pada akhirnya, mau di desa atau di kota, hidup serba kekurangan tidaklah menyenangkan.

Dalam Diam

Awal tahun ini, saya pindah ke ibu kota untuk bekerja.

Saya suka ketidakteraturan yang indah, seperti lukisan abstrak yang punya daya magis membuat kita memandangnya terus menerus tanpa tahu maksudnya. Namun, saya belum menemukan itu di Jakarta.

Kesemrawutan, ketimpangan, kebisingan. Dan, saya bertahan tetap sadar.

Sore-nya, saya pulang ke rumah di Bintaro, di sanalah saya tinggal sendiri. Selama seminggu pertama, saya merasa aneh. Sejak pulang kantor hingga keesokan paginya, saya jarang atau tidak sama sekali berbicara.

Di rumah itu, sama sekali tak ada orang, jadi untuk apa juga saya bicara. Yang membuat saya kaget adalah… kesunyian itu, kediaman itu membuat saya berpikir lebih jernih.

Nyatanya, saat orang diam.. ia berbicara dalam hati. Mengenai apa pun juga yang sifatnya personal. Mempertanyakan kembali keputusan-keputusan dan prinsip-prinsip. Mereka ulang, apakah yang kemarin dilakukan adalah kesalahan atau bukan.

Tak heran, ada orang-orang yang bermeditasi atau semedi. Tentunya, mereka tidak duduk bersila sambil tidur kan? :D

Kita terfokus pada komunikasi dengan orang lain, sehingga kadang melupakan bahwa diri sendiri juga perlu diajak ngobrol.

Dalam diam, saya tersadar.. Mungkin, sebelumnya saya menyisihkan hal penting, karena terpana pada perbincangan gosip sana sini, yang seolah membuat hidup orang lain lebih pantas diurusi dibandingkan kehidupan diri sendiri.

 

Nyerah Nulis?!?

Apakah Anda bercita menjadi novelis namun draft novel hanya selesai setengah?

Pernahkan membara ingin seperti Andrea Hirata, Elizabeth Gilbert, atau Trinity, namun seminggu kemudian padam karena malas menulis?

Banyak orang yang mengalami masalah itu, termasuk saya. Teman-teman di klub penulisan pun punya keluhan yang sama.

Dua hari ini saya menyimak dua penulis perjalanan, Rob Lilwall dan Diana Plater. Berikut ini tips dari keduanya:

1. Memiliki niat dan target
Rob berkomitmen menulis tiga hari per minggu. Ia akan diam di suatu kafe yang nyaman dan mengetik hingga malam tiba.

2. Pacar, sahabat, dan saudara sekampung
Kita akan bertahan, apalagi saat mereka yang kita sayangi terus mendorong atau memaksa kita terus menulis. Entah dengan cinta atau ancaman. Pernah kan mengalami momen kreatif karena tekanan?!?

3. Pembaca Relawan
Cari 4 hingga 7 orang yang Anda yakini mampu memuji sekaligus mengkritik tulisan Anda.

4. Editor
Ada yang baik dan buruk. Memberi kebahagiaan atau stress. Rob bilang, ia cukup senang dengan editornya yang memberinya kebebasan menulis. Editor yang baik juga dapat memberikan persentase keuntungan yang manusiawi bagi penulis.

5. Sang Jurnalis
Rob meminta bantuan jurnalis BBC untuk menilai tulisannya. Sang jurnalis menghindari penulis membuat kesalahan dalam fakta dan deskripsi. Menurut Diana, keberimbangan dalam penulisan reportase perjalanan sangatlah penting. Tulisan yang bias mengenai suatu budaya atau suku akan menciptakan persepsi menyimpang dalam pikiran pembaca.

6. Hadapi saja!
Pada akhirnya, kita harus berani menghadapi serangkaian pertarungan mental dalam menulis dan merevisi tulisan. Bahkan, penulis terkenal pun mengakui beratnya pertarungan ini. Rob mengutip kata Hemingway:

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.”
-Hemingway-

Silahkan memulai perjuangan hebat ini.

Semoga beruntung, teman!

Menyerap, Merasa dan Menulis Petualangan

Me and The Adventurer, Rob Lilwall

Dia berasal dari Inggris. Usia 27 tahun.

Ada kekosongan yang terasa dalam diri guru geografi muda ini.

Untuk menuntaskan kegelisahannya, ia bersepeda mengelilingi 27 negara di Asia dan Eropa. Dari Siberia menukik ke Australia dan berakhir di negaranya, Inggris. Ia bukan lagi guru yang menjelaskan peta dunia tetapi juga mengitarinya.

Dari petualangan tiga tahun itu, ia merasakan budaya baru, teman baru, hingga menemukan calon istrinya.
Dari situlah tercipta buku “Cycling Home From Siberia” dan enam seri perjalanannya yang ditayangkan National Geographic.

Hari pertama Ubud Writers and Readers Festival diwarnai dengan workshop menulis buku perjalanan.
Rob adalah sang guru geografi itu. Ia terlihat cukup muda, mungkin sekitar 30an. Rob penuh semangat bercerita dan ramah membagi ilmunya.

Saat bekerja sama dengan National Geographic, Rob diminta mengolah skrip serial tv-nya menjadi gabungan dua jenis perjalanan (journey), yaitu:

  • External journey: deskripsi benda, suhu, aroma.
  • Internal journey: perasaan kita.

Prinsip serial tv ini juga berlaku dalam dunia literatur. Setiap cerita harus memiliki kedua perjalanan ini. Setiap penulis dapat mengatur porsi keduanya sesuai selera.

Rob menekankan, berbagai elemen cerita perjalanan harus didasari pada naluri. Diperlukan kejujuran dalam berkarya, jangan mencoba sok lucu atau sok serius. Pada akhirnya, kekhasan diri kita malah tertutupi.

Dalam memilih angle, pertanyakan dalam diri: apakah saya cenderung menulis cerita humor, petualangan, historis, budaya atau perenungan?

Bisa saja sebuah buku terdiri dari bab-bab dengan angle yang berbeda. Akan tetapi, jangan sampai menggunakannya terlalu banyak.

Bertanyalah lagi: apakah bab ini bukan sekedar deskripsi dan menambah nilai dari buku ini secara keseluruhan? Kalau jawabannya tidak, kita harus tega menghapusnya. Biasanya, pekerjaan “tega” ini dibantu editor.

Dukungan eksternal cukup krusial dalam proses menulis. Menulislah di tempat yang nyaman agar bisa konsentrasi.

Rob menyarankan menulis di laptop tanpa sambungan internet. Jadi, kita tidak tergoda chatting atau Twitter-an.

Keluarga dan teman yang mendukung membuat proyek menulis lebih mudah. Ajak beberapa orang yang kompeten untuk menilai naskahmu.

Ada juga beberap trik menarik agar pembaca terus menyimak, misalnya menulis kutipan bab selanjutnya di akhir bab sebelumnya.

Sebelum menjalani langkah tersebut, pertama-tama: berjalan-jalanlah!
Buka segala kemungkinan. Serap pengalaman dari kelima panca indra.

Mungkin saja Anda mendapatkan kekasih, seperti yang Rob alami dapatkan dalam perjalanan sepedanya! :)

Mata Angin Bali

Kalau kamu berjalan2 di tanah orang, kemungkinan besar kamu akan turun dari mobil dan bertanya arah pada masyarakat lokal.

Aslinya, proses bertanya tidak sesederhana itu. Setiap daerah punya cara berbeda untuk menunjukkan arah.

Saat bertanya arah di Jawa Timur, orang sekitar berkata “Nganan” yang artinya ke kanan, dan “Ngiri” yang artinya ke kiri.
Beda bahasa sedikit tak masalah. Kalau di Bali, orang menunjukkan arah dengan sistem yang jauh berbeda dengan orang Jawa.

Saya turun dari mobil dan seorang satpam dan kumpulan bapak-bapak berkata, “Nah, dari sini lurus ke Timur, belok ke Selatan, biar bisa kembali lagi Barat.”
Bingung deh saya…

Di sisi lain, saya jadi tahu bahwa orang Bali selalu tahu dimana mengarah.

Kata Bli Dewa, manajer di Jati homestay saya, mata angin menjadi hal yg penting bagi mereka. Setiap mata angin punya fungsi tersendiri di tempat tinggal mereka.

Utara    : Tempat Orang Tua atau yang Dituakan.
Timur : Tempat Orang Muda
Selatan: Dapur
Barat    : Tempat Ibadah

Hal ini menjadi “feng shui” penting bagi orang Bali. Oleh karenanya, mereka selalu tahu kemana mengarah untuk menjalani aktivitas.

Untuk info lebih lengkap mengenai feng shui ala Bali atau Asta Kosala Kosali dapat Anda simak disini.

Kini, saat anda membaca blog ini, tahukah kemana Anda sedang mengarah?

Boobs and Durians in Blanco Museum

Kedua teman saya di depan Museum Blanco

Dari awal pergi ke Bali, saya sudah ingin ke museum Antonio Blanco.. Dan untungnya, museum itu berada di Ubud.

Saya dan teman2 masuk dengan bayar 30 ribu (untuk pengunjung internasional 50 ribu). Dan, mendapat suguhan coffee syrup berhiaskan bunga.
Awalnya, kami girang berfoto2 dengan burung2 eksotik di halaman.
Setelah puas berfoto, kami masuk ke ruang utama yg bergaya Eropa yang didesain sendiri oleh Blanco.
Didalamnya terdapat banyak lukisan wanita Bali menari atau merebahkan diri tanpa penutup dada.. Kadang ada caption panjang mengenai cerita lukisan.

Dalam salah satu artikel berbahasa Inggris yg dipajang tertulis, kurang lebih begini:

Wanita bali tubuhnya sangat cantik dilukis. Alasannya, mereka sering membawa barang di atas kepalanya. Beban yg ditopang membuat sistem otot di leher dan pundaknya baik, sehingga buah dadanya pun indah..

Kami beralih ke Erotica Room. Gayanya lebih pop.. Blanco membuat lukisan kolase, framenya juga jadi seni tersendiri. Ada frame berbentuk wanita telanjang yang mulut dan buah dadanya mengeluarkan botol! Awww…
Ada pula Ruang Film dan Studio Lukis. Saya sempat lihat foto dan lukisan Blanco dan Michael Jackson.
Juga ada ruang dengan lukisan bunga dan buah. Salah satunya, lukisan buah berbingkai durian besar.

The Durian and Me

Kunjungan ke museum Blanco membangkitkan memori saya pada serial televisi tentang pelukis beraliran Reinassance ini. Saat itu saya masih SD dan terpaku pada serial yang indah namun terlalu dewasa untuk saya ini.
Kunjungan singkat ini pun menyadarkan saya bahwa banyak orang asing yang mengagumi eksotika wanita Bali, yang konon tidak menutup buah dadanya hingga tahun 1900-an.

7 Days in Bali

Halo semuanya..
Lama saya tidak menulis..
Dua bulan setengah saya bergulat dengan skripsi.. Dan akhirnya 30 September ini: LULUS.
Sebelum lulus saya sudah merencanakan apa yg akan saya lakukan setelahnya…
Bukan mengenai kerja tetapi program CTRL+ALT+DEL dari skripsi.
Jawabannya adalah… menjadi volunteer Ubud Writers and Readers Festival.
Sudah lama saya ingin terlibat dalam festival penulis internasional ini, baru kali ini ada kesempatan.
Tiga hari setelah lulus, saya terbang dgn AirAsia seorang diri. Bertemu dgn dua teman baru di sini dan kompakan menginap bareng di Ubud.
New friends. New places. New experiences.


Banyak sekali yg ingin saya ceritakan. Saya akan membagikannya di blog ini.
Semoga bermanfaat bagi semua! :)

Notes: saya menulis blog ini sambil selonjoran di sofa dpn kamar hotel. Ada kicauan burung dan gemerecik air. Pohon kelapa, pisang, dan pohon bunga kamboja membingkai pemandangan pematang sawah di hadapan saya. Ibu pemilik hotel mengenakan kebaya pink sedang menaruh sesajen, dan memberkati kamar kita, sambil tangannya memegang bunga.. Ohh..

Pemandangan dari balkon kamar

Hamil!

Artikel ini bukanlah untuk memberitakan saya hamil,

Beberapa hari ini saya melihat berita yang terkait dengan kehamilan, yaitu seorang kakek termuda di Inggris. Ia berusia 29 tahun, anaknya melahirkan pada usia 14 tahun. Kemudian, ada pula video Shinta – Jojo “Hamil Duluan”. Chessy memang… Hehehe…

Karena kedua hal tersebutlah, saya ingat kehamilan-kehamilan di sekeliling saya. Kehamilan muda tepatnya.

Ada hamil muda yang telah direncanakan, ada juga yang belum.

Saya dan teman-teman saya adalah perempuan muda urban. Berpendidikan dan punya kehidupan enak. Namun, kehamilan muda yang tak dipersiapkan tetap terjadi.

Sementara, dalam beberapa masa saya mengenal banyak pembantu perempuan. Mereka seusia dengan saya tetapi memiliki siklus kehidupan yang jauh berbeda. Ibu dan tante-tante saya sering kelimpungan saat sang pembantu ingin pulang untuk menikah. Ya.. menikah di usia 15 sampai 17an.

Seorang pembantu tante saya, sebut saja Irma. Awalnya, dia adalah perempuan yang ceria. Kemudian, ia dinikahkan orang tuanya dengan seorang pria di kampung. Saya pikir saya tak akan pernah melihatnya lagi. Nyatanya, Irma datang ke rumah tante saya sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Ia ingin kembali bekerja lagi di sana karena sulit mencari pekerjaan lain. Saya tak bisa mengobrol ringan lagi dengan Irma, auranya mengeras sebelum waktunya. Inilah perempuan yang dipaksa dewasa.

Bagi saya, kejadian selanjutnya di hidup Irma adalah bagaikan rangkaian sinetron menyedihkan. Ia bercerai dengan suaminya. Anaknya, ia asuh sendiri. Tak lama, Irma menikah dengan seorang duda beranak dua yang pengangguran. Ia pulang ke kampung dan bekerja sebagai buruh kebun. Selama bekerja, ia menggendong anaknya sehingga anaknya itu kulitnya hitam terbakar. Badan anaknya pun menjadi kurus. Kemudian, ia berubah pekerjaan lagi… Saya tak tahu kapan Irma akan menemukan kehidupan yang tenang.

Realitas yang dialami Irma adalah tipikal nasib perempuan daerah di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Dalam sebuah artikel di National Geographic dituliskan, gadis-gadis berusia 5-14 tahun ke atas dipaksa menikah dengan pria-pria berusia 30-50an. Ini sangat gila, namun nyatanya terjadi di India, Yaman, Nepal, Afganistan dan Ethopia. Orang tua menyerahkan anaknya karena dorongan kultur atau untuk membayar hutang. Pernikahan tersebut mengakibatkan trauma, resiko kehamilan muda, bahkan kematian. Lengkapnya, baca di sini.

Setelah Kelas Motivasi bersama anak SDN Padaasih, Desa Padaasih, Subang. Semoga mereka dapat bersekolah terus dan berkeluarga sesuai kesiapan dan pilihan mereka sendiri.

Di kalangan perempuan urban Indonesia, kehamilan muda terjadi dengan cara yang berbeda. Hampir tidak ada orang tua yang memaksakan anaknya menikah di bawah usia, apalagi dengan menikah dengan pria yang asing. Mereka memiliki pilihan untuk sekolah, kuliah, dan berpacaran. Sayangnya, beberapa perempuan hamil sebelum waktunya. Walau kecewa, orang tua menikahkannya kemudian membantu sebisa mungkin agar cucunya memiliki kualitas kehidupan yang baik.

Saya tidak memiliki kapasitas untuk menghakimi. Di sisi lain, saya tidak bisa menahan untuk berpikir bahwa perempuan urban memiliki kesempatan lebih besar untuk menghindarinya. Kita adalah manusia-manusia beruntung. Kita adalah nakhoda nasib kita.

Seperti yang banyak diungkapkan banyak buku, saya percaya hidup adalah hasil dari serangkaian pilihan yang kita buat. Semoga saja saya, teman-teman saya, dapat membuat pilihan yang baik sehingga kita mendapatkan kehidupan bahagia di kemudian hari.

Kakak Beradik: Beda Jaman, Beda Standar

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan teori baru saat mengobrol dengan teman-teman saya..

Teori itu berbuah dari pertanyaan: Mengapa kakak dan adik memiliki perspektif gaya hidup dan uang yang berbeda?

Saya dan kedua teman saya adalah anak pertama. Sementara, seorang teman adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Di sebuah resto, kami mengobrol santai. Saya cerita, adik saya, yang berbeda 10 tahun dengan saya, cemberut saat diajak makan di kaki lima sate padang. Dia mengeluh saat disuruh naik angkot. Saya kaget.

Teman-teman saya pun memiliki cerita yang tak jauh berbeda. Adiknya ingin barang yang ini itu. Tidak mau memakai aksesoris yang sama karena teman-temannya selalu menjadi hamba mode.

Mengapa kami memandang adik-adik kami berbeda?

Setelah saya pikir-pikir, kami adalah anak pertama dari para keluarga kelas pekerja menengah atas. Artinya, orang tua memiliki latar belakang yang mencukupi, namun tetap harus bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Orang tua kami memulai kehidupan sederhana, berdua saja. Mereka bekerja sangat keras untuk membeli aset pertamanya, rumah beserta isinya. Di saat inilah, anak pertama hadir. Dengan modal seadanya dan perjuangan hebat, orang tua berusaha memenuhi kebutuhan anak pertama. Saya ingat, waktu saya masih kecil, saya sering dititipkan ke nenek atau tante karena mama sibuk bertugas di Puskesmas Lembang.

Tahun demi tahun berganti, orang tua kami sudah mengumpulkan aset yang lebih besar, pekerjaan yang lebih bonafide. Anak kedua, ketiga, keempat, dst berdatangan. Dalam tahap ini, orang tua sudah bisa memberikan segala fasilitas yang lebih baik dibandingkan saat anak pertama masih kecil.

Saat adik saya lahir, ayah dan ibu bekerja di Bandung. Mereka mempekerjakan pembantu sendiri yang mengasuh adik. Mobil sudah semakin nyaman. Makan di McD, yang dulunya hanya di momen spesial, menjadi makanan biasa yang membosankan.

Gaya hidup anak selanjutnya menjadi setingkat lebih glamor daripada kakaknya. Mereka memiliki keinginan yang mumpuni karena terbiasa diberi hal yang serba berkualitas. Inilah yang menciptakan perbedaan perspektif ekonomi antara kakak beradik.

Tentu saja, teori ini hanya berlaku pada keluarga yang, Alhamdulillah, rezekinya terus mengalir. Kalau yang terjadi sebaliknya, mungkin efeknya pun berbeda. Mungkin, anak pertama menderita standar hidupnya menurun, sementara sang adik bisa menyesuaikan.

Mungkin saja, kakak adik tidak memiliki perbedaan pandangan apabila jarak umurnya dekat dan tidak terjadi perubahan ekonomi signifikan di keluarganya. Selain itu, teori ini terbatas karena  berdasarkan pada realitas yang saya temui saja.

Saya tidak menyalahkan adik saya. Kita hanya hidup di masa berbeda.

Mungkin, kalau saya di posisinya, saya juga tak akan suka makan di pinggir jalan atau naik angkot. Namun ada baiknya, kakak dan adik saling belajar. Saya belajar mengenai pergaulannya. Sementara, ia belajar untuk menikmati kesederhanaan.

Dengan demikian, semoga saja saya dan adik memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas. Bukankah itu harapan yang menyenangkan?

(Saya tunggu cerita dan pendapat mengenai beda perspektif adik kakak ini ya!)