Apa bedanya miskin di kota dan desa?


Baru pada usia 23 tahun ini, saya akhirnya bisa sedikit mengetahui rasanya miskin di desa dan di kota. Merasakan dalam hal ini, adalah tinggal bersama keluarga kurang mampu.

Memang benar, miskin di mana pun tak enak. Namun, setelah mengamati kehidupan miskin di Subang, Jawa Barat dan kolong jembatan Teluk Gong, saya terkejut sendiri melihat banyaknya perbedaan keduanya. Perbandingan ini tentunya tidak dapat digeneralisasikan pada semua desa dan kota.

 

1. Kamu siapa?

Penduduk desa umumnya terpusat dan terpisah kehidupan kota, seseorang cenderung tidak merasa miskin. Ia memiliki tetangga yang sama gaya hidupnya, sehingga merasa setara. Paling mungkin ia menyadari status ekonominya adalah saat menonton TV.

Di kolong jembatan Teluk Gong, penduduknya dapat melihat mobil mewah berseliweran di kanan kiri (bahkan di atas mereka). Walau tidak memiliki rumah layak, hampir semuanya memiliki TV dan intens menonton sinetron yang sering menampilkan kemewahan pula. Mereka benar-benar sadar lemahnya status ekonomi mereka.

2. Slum is a melting pot

Pemukim kolong jembatan Teluk Gong adalah kumpulan pendatang dari tanah Jawa dan Sunda. Sayangnya, mereka mulai meninggalkan bahasa daerahnya, dan berupaya membaur dengan berbahasa Betawi.

Kemungkinan lebih mudah menyelaraskan penduduk di desa, karena mereka sama-sama penduduk asli yang berbudaya dan berbahasa sama.

3. Dimana rumah sakit? Dimana mall?

Saya ingat, cerita seorang ibu hamil di desa. Di tengah malam, sang ibu baru melahirkan setengah jalan. Kaki dan perutnya sang bayi sudah keluar, tetapi kepalanya masih tertahan di dalam. Agar bisa bernapas, sang bayi harus cepat dikeluarkan. Tidak ada angkutan umum di malam hari. Keluarga sang ibu harus mencari pinjaman mobil angkot milik tetangga dan melalui jalan panjang ke pusat kota. Saat sang ibu sampai di rumah sakit, sang jabang bayi sudah tidak bergerak.

Tidak sulit bagi penduduk miskin kota mencari rumah sakit. Rumah sakit pemerintah hingga yang mewah menjulang di sekitarnya. Masalahnya, mereka harus berlomba dengan bejubel penduduk miskin kota untuk mendapatkan pelayanan kesehatan murah secepatnya.

4. Tanah, air dan udara

Walau secara akses sulit, desa menyediakan “kemewahan” udara segar, lahan bersih dan air jernih. Bahkan, air selokannya pun yang jernih.

Saat tidur di kolong jembatan, kita mendengar mobil yang melewati jembatan sepanjang malam. Di saat yang bersamaan, kita dapat mencium bau air hitam kelam, di kali yang tidak mengalir. Nyamuk-nyamuk yang bebas berkembang biak di kali, mengganggu lelapnya. 24/7 kita dipaksa menghirup udara beraroma knalpot kendaraan.

 

Setelah mencicipi kehidupan kekurangan di desa dan di kota, saya rasa miskin di kota lebih menderita. Seseorang menjadi sepenuhnya sadar bahwa ia berada “kasta terendah” dalam masyarakatnya, harus menyesuaikan diri dengan budaya Jakarta dan hidup di tengah polusi.

Pada akhirnya, mau di desa atau di kota, hidup serba kekurangan tidaklah menyenangkan.

4 responses to “Apa bedanya miskin di kota dan desa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s