Dalam Diam

Awal tahun ini, saya pindah ke ibu kota untuk bekerja.

Saya suka ketidakteraturan yang indah, seperti lukisan abstrak yang punya daya magis membuat kita memandangnya terus menerus tanpa tahu maksudnya. Namun, saya belum menemukan itu di Jakarta.

Kesemrawutan, ketimpangan, kebisingan. Dan, saya bertahan tetap sadar.

Sore-nya, saya pulang ke rumah di Bintaro, di sanalah saya tinggal sendiri. Selama seminggu pertama, saya merasa aneh. Sejak pulang kantor hingga keesokan paginya, saya jarang atau tidak sama sekali berbicara.

Di rumah itu, sama sekali tak ada orang, jadi untuk apa juga saya bicara. Yang membuat saya kaget adalah… kesunyian itu, kediaman itu membuat saya berpikir lebih jernih.

Nyatanya, saat orang diam.. ia berbicara dalam hati. Mengenai apa pun juga yang sifatnya personal. Mempertanyakan kembali keputusan-keputusan dan prinsip-prinsip. Mereka ulang, apakah yang kemarin dilakukan adalah kesalahan atau bukan.

Tak heran, ada orang-orang yang bermeditasi atau semedi. Tentunya, mereka tidak duduk bersila sambil tidur kan? :D

Kita terfokus pada komunikasi dengan orang lain, sehingga kadang melupakan bahwa diri sendiri juga perlu diajak ngobrol.

Dalam diam, saya tersadar.. Mungkin, sebelumnya saya menyisihkan hal penting, karena terpana pada perbincangan gosip sana sini, yang seolah membuat hidup orang lain lebih pantas diurusi dibandingkan kehidupan diri sendiri.

 

Nyerah Nulis?!?

Apakah Anda bercita menjadi novelis namun draft novel hanya selesai setengah?

Pernahkan membara ingin seperti Andrea Hirata, Elizabeth Gilbert, atau Trinity, namun seminggu kemudian padam karena malas menulis?

Banyak orang yang mengalami masalah itu, termasuk saya. Teman-teman di klub penulisan pun punya keluhan yang sama.

Dua hari ini saya menyimak dua penulis perjalanan, Rob Lilwall dan Diana Plater. Berikut ini tips dari keduanya:

1. Memiliki niat dan target
Rob berkomitmen menulis tiga hari per minggu. Ia akan diam di suatu kafe yang nyaman dan mengetik hingga malam tiba.

2. Pacar, sahabat, dan saudara sekampung
Kita akan bertahan, apalagi saat mereka yang kita sayangi terus mendorong atau memaksa kita terus menulis. Entah dengan cinta atau ancaman. Pernah kan mengalami momen kreatif karena tekanan?!?

3. Pembaca Relawan
Cari 4 hingga 7 orang yang Anda yakini mampu memuji sekaligus mengkritik tulisan Anda.

4. Editor
Ada yang baik dan buruk. Memberi kebahagiaan atau stress. Rob bilang, ia cukup senang dengan editornya yang memberinya kebebasan menulis. Editor yang baik juga dapat memberikan persentase keuntungan yang manusiawi bagi penulis.

5. Sang Jurnalis
Rob meminta bantuan jurnalis BBC untuk menilai tulisannya. Sang jurnalis menghindari penulis membuat kesalahan dalam fakta dan deskripsi. Menurut Diana, keberimbangan dalam penulisan reportase perjalanan sangatlah penting. Tulisan yang bias mengenai suatu budaya atau suku akan menciptakan persepsi menyimpang dalam pikiran pembaca.

6. Hadapi saja!
Pada akhirnya, kita harus berani menghadapi serangkaian pertarungan mental dalam menulis dan merevisi tulisan. Bahkan, penulis terkenal pun mengakui beratnya pertarungan ini. Rob mengutip kata Hemingway:

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.”
-Hemingway-

Silahkan memulai perjuangan hebat ini.

Semoga beruntung, teman!

Menyerap, Merasa dan Menulis Petualangan

Me and The Adventurer, Rob Lilwall

Dia berasal dari Inggris. Usia 27 tahun.

Ada kekosongan yang terasa dalam diri guru geografi muda ini.

Untuk menuntaskan kegelisahannya, ia bersepeda mengelilingi 27 negara di Asia dan Eropa. Dari Siberia menukik ke Australia dan berakhir di negaranya, Inggris. Ia bukan lagi guru yang menjelaskan peta dunia tetapi juga mengitarinya.

Dari petualangan tiga tahun itu, ia merasakan budaya baru, teman baru, hingga menemukan calon istrinya.
Dari situlah tercipta buku “Cycling Home From Siberia” dan enam seri perjalanannya yang ditayangkan National Geographic.

Hari pertama Ubud Writers and Readers Festival diwarnai dengan workshop menulis buku perjalanan.
Rob adalah sang guru geografi itu. Ia terlihat cukup muda, mungkin sekitar 30an. Rob penuh semangat bercerita dan ramah membagi ilmunya.

Saat bekerja sama dengan National Geographic, Rob diminta mengolah skrip serial tv-nya menjadi gabungan dua jenis perjalanan (journey), yaitu:

  • External journey: deskripsi benda, suhu, aroma.
  • Internal journey: perasaan kita.

Prinsip serial tv ini juga berlaku dalam dunia literatur. Setiap cerita harus memiliki kedua perjalanan ini. Setiap penulis dapat mengatur porsi keduanya sesuai selera.

Rob menekankan, berbagai elemen cerita perjalanan harus didasari pada naluri. Diperlukan kejujuran dalam berkarya, jangan mencoba sok lucu atau sok serius. Pada akhirnya, kekhasan diri kita malah tertutupi.

Dalam memilih angle, pertanyakan dalam diri: apakah saya cenderung menulis cerita humor, petualangan, historis, budaya atau perenungan?

Bisa saja sebuah buku terdiri dari bab-bab dengan angle yang berbeda. Akan tetapi, jangan sampai menggunakannya terlalu banyak.

Bertanyalah lagi: apakah bab ini bukan sekedar deskripsi dan menambah nilai dari buku ini secara keseluruhan? Kalau jawabannya tidak, kita harus tega menghapusnya. Biasanya, pekerjaan “tega” ini dibantu editor.

Dukungan eksternal cukup krusial dalam proses menulis. Menulislah di tempat yang nyaman agar bisa konsentrasi.

Rob menyarankan menulis di laptop tanpa sambungan internet. Jadi, kita tidak tergoda chatting atau Twitter-an.

Keluarga dan teman yang mendukung membuat proyek menulis lebih mudah. Ajak beberapa orang yang kompeten untuk menilai naskahmu.

Ada juga beberap trik menarik agar pembaca terus menyimak, misalnya menulis kutipan bab selanjutnya di akhir bab sebelumnya.

Sebelum menjalani langkah tersebut, pertama-tama: berjalan-jalanlah!
Buka segala kemungkinan. Serap pengalaman dari kelima panca indra.

Mungkin saja Anda mendapatkan kekasih, seperti yang Rob alami dapatkan dalam perjalanan sepedanya! :)

Mata Angin Bali

Kalau kamu berjalan2 di tanah orang, kemungkinan besar kamu akan turun dari mobil dan bertanya arah pada masyarakat lokal.

Aslinya, proses bertanya tidak sesederhana itu. Setiap daerah punya cara berbeda untuk menunjukkan arah.

Saat bertanya arah di Jawa Timur, orang sekitar berkata “Nganan” yang artinya ke kanan, dan “Ngiri” yang artinya ke kiri.
Beda bahasa sedikit tak masalah. Kalau di Bali, orang menunjukkan arah dengan sistem yang jauh berbeda dengan orang Jawa.

Saya turun dari mobil dan seorang satpam dan kumpulan bapak-bapak berkata, “Nah, dari sini lurus ke Timur, belok ke Selatan, biar bisa kembali lagi Barat.”
Bingung deh saya…

Di sisi lain, saya jadi tahu bahwa orang Bali selalu tahu dimana mengarah.

Kata Bli Dewa, manajer di Jati homestay saya, mata angin menjadi hal yg penting bagi mereka. Setiap mata angin punya fungsi tersendiri di tempat tinggal mereka.

Utara    : Tempat Orang Tua atau yang Dituakan.
Timur : Tempat Orang Muda
Selatan: Dapur
Barat    : Tempat Ibadah

Hal ini menjadi “feng shui” penting bagi orang Bali. Oleh karenanya, mereka selalu tahu kemana mengarah untuk menjalani aktivitas.

Untuk info lebih lengkap mengenai feng shui ala Bali atau Asta Kosala Kosali dapat Anda simak disini.

Kini, saat anda membaca blog ini, tahukah kemana Anda sedang mengarah?

Boobs and Durians in Blanco Museum

Kedua teman saya di depan Museum Blanco

Dari awal pergi ke Bali, saya sudah ingin ke museum Antonio Blanco.. Dan untungnya, museum itu berada di Ubud.

Saya dan teman2 masuk dengan bayar 30 ribu (untuk pengunjung internasional 50 ribu). Dan, mendapat suguhan coffee syrup berhiaskan bunga.
Awalnya, kami girang berfoto2 dengan burung2 eksotik di halaman.
Setelah puas berfoto, kami masuk ke ruang utama yg bergaya Eropa yang didesain sendiri oleh Blanco.
Didalamnya terdapat banyak lukisan wanita Bali menari atau merebahkan diri tanpa penutup dada.. Kadang ada caption panjang mengenai cerita lukisan.

Dalam salah satu artikel berbahasa Inggris yg dipajang tertulis, kurang lebih begini:

Wanita bali tubuhnya sangat cantik dilukis. Alasannya, mereka sering membawa barang di atas kepalanya. Beban yg ditopang membuat sistem otot di leher dan pundaknya baik, sehingga buah dadanya pun indah..

Kami beralih ke Erotica Room. Gayanya lebih pop.. Blanco membuat lukisan kolase, framenya juga jadi seni tersendiri. Ada frame berbentuk wanita telanjang yang mulut dan buah dadanya mengeluarkan botol! Awww…
Ada pula Ruang Film dan Studio Lukis. Saya sempat lihat foto dan lukisan Blanco dan Michael Jackson.
Juga ada ruang dengan lukisan bunga dan buah. Salah satunya, lukisan buah berbingkai durian besar.

The Durian and Me

Kunjungan ke museum Blanco membangkitkan memori saya pada serial televisi tentang pelukis beraliran Reinassance ini. Saat itu saya masih SD dan terpaku pada serial yang indah namun terlalu dewasa untuk saya ini.
Kunjungan singkat ini pun menyadarkan saya bahwa banyak orang asing yang mengagumi eksotika wanita Bali, yang konon tidak menutup buah dadanya hingga tahun 1900-an.

7 Days in Bali

Halo semuanya..
Lama saya tidak menulis..
Dua bulan setengah saya bergulat dengan skripsi.. Dan akhirnya 30 September ini: LULUS.
Sebelum lulus saya sudah merencanakan apa yg akan saya lakukan setelahnya…
Bukan mengenai kerja tetapi program CTRL+ALT+DEL dari skripsi.
Jawabannya adalah… menjadi volunteer Ubud Writers and Readers Festival.
Sudah lama saya ingin terlibat dalam festival penulis internasional ini, baru kali ini ada kesempatan.
Tiga hari setelah lulus, saya terbang dgn AirAsia seorang diri. Bertemu dgn dua teman baru di sini dan kompakan menginap bareng di Ubud.
New friends. New places. New experiences.


Banyak sekali yg ingin saya ceritakan. Saya akan membagikannya di blog ini.
Semoga bermanfaat bagi semua! :)

Notes: saya menulis blog ini sambil selonjoran di sofa dpn kamar hotel. Ada kicauan burung dan gemerecik air. Pohon kelapa, pisang, dan pohon bunga kamboja membingkai pemandangan pematang sawah di hadapan saya. Ibu pemilik hotel mengenakan kebaya pink sedang menaruh sesajen, dan memberkati kamar kita, sambil tangannya memegang bunga.. Ohh..

Pemandangan dari balkon kamar

Hamil!

Artikel ini bukanlah untuk memberitakan saya hamil,

Beberapa hari ini saya melihat berita yang terkait dengan kehamilan, yaitu seorang kakek termuda di Inggris. Ia berusia 29 tahun, anaknya melahirkan pada usia 14 tahun. Kemudian, ada pula video Shinta – Jojo “Hamil Duluan”. Chessy memang… Hehehe…

Karena kedua hal tersebutlah, saya ingat kehamilan-kehamilan di sekeliling saya. Kehamilan muda tepatnya.

Ada hamil muda yang telah direncanakan, ada juga yang belum.

Saya dan teman-teman saya adalah perempuan muda urban. Berpendidikan dan punya kehidupan enak. Namun, kehamilan muda yang tak dipersiapkan tetap terjadi.

Sementara, dalam beberapa masa saya mengenal banyak pembantu perempuan. Mereka seusia dengan saya tetapi memiliki siklus kehidupan yang jauh berbeda. Ibu dan tante-tante saya sering kelimpungan saat sang pembantu ingin pulang untuk menikah. Ya.. menikah di usia 15 sampai 17an.

Seorang pembantu tante saya, sebut saja Irma. Awalnya, dia adalah perempuan yang ceria. Kemudian, ia dinikahkan orang tuanya dengan seorang pria di kampung. Saya pikir saya tak akan pernah melihatnya lagi. Nyatanya, Irma datang ke rumah tante saya sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Ia ingin kembali bekerja lagi di sana karena sulit mencari pekerjaan lain. Saya tak bisa mengobrol ringan lagi dengan Irma, auranya mengeras sebelum waktunya. Inilah perempuan yang dipaksa dewasa.

Bagi saya, kejadian selanjutnya di hidup Irma adalah bagaikan rangkaian sinetron menyedihkan. Ia bercerai dengan suaminya. Anaknya, ia asuh sendiri. Tak lama, Irma menikah dengan seorang duda beranak dua yang pengangguran. Ia pulang ke kampung dan bekerja sebagai buruh kebun. Selama bekerja, ia menggendong anaknya sehingga anaknya itu kulitnya hitam terbakar. Badan anaknya pun menjadi kurus. Kemudian, ia berubah pekerjaan lagi… Saya tak tahu kapan Irma akan menemukan kehidupan yang tenang.

Realitas yang dialami Irma adalah tipikal nasib perempuan daerah di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Dalam sebuah artikel di National Geographic dituliskan, gadis-gadis berusia 5-14 tahun ke atas dipaksa menikah dengan pria-pria berusia 30-50an. Ini sangat gila, namun nyatanya terjadi di India, Yaman, Nepal, Afganistan dan Ethopia. Orang tua menyerahkan anaknya karena dorongan kultur atau untuk membayar hutang. Pernikahan tersebut mengakibatkan trauma, resiko kehamilan muda, bahkan kematian. Lengkapnya, baca di sini.

Setelah Kelas Motivasi bersama anak SDN Padaasih, Desa Padaasih, Subang. Semoga mereka dapat bersekolah terus dan berkeluarga sesuai kesiapan dan pilihan mereka sendiri.

Di kalangan perempuan urban Indonesia, kehamilan muda terjadi dengan cara yang berbeda. Hampir tidak ada orang tua yang memaksakan anaknya menikah di bawah usia, apalagi dengan menikah dengan pria yang asing. Mereka memiliki pilihan untuk sekolah, kuliah, dan berpacaran. Sayangnya, beberapa perempuan hamil sebelum waktunya. Walau kecewa, orang tua menikahkannya kemudian membantu sebisa mungkin agar cucunya memiliki kualitas kehidupan yang baik.

Saya tidak memiliki kapasitas untuk menghakimi. Di sisi lain, saya tidak bisa menahan untuk berpikir bahwa perempuan urban memiliki kesempatan lebih besar untuk menghindarinya. Kita adalah manusia-manusia beruntung. Kita adalah nakhoda nasib kita.

Seperti yang banyak diungkapkan banyak buku, saya percaya hidup adalah hasil dari serangkaian pilihan yang kita buat. Semoga saja saya, teman-teman saya, dapat membuat pilihan yang baik sehingga kita mendapatkan kehidupan bahagia di kemudian hari.

Kakak Beradik: Beda Jaman, Beda Standar

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan teori baru saat mengobrol dengan teman-teman saya..

Teori itu berbuah dari pertanyaan: Mengapa kakak dan adik memiliki perspektif gaya hidup dan uang yang berbeda?

Saya dan kedua teman saya adalah anak pertama. Sementara, seorang teman adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Di sebuah resto, kami mengobrol santai. Saya cerita, adik saya, yang berbeda 10 tahun dengan saya, cemberut saat diajak makan di kaki lima sate padang. Dia mengeluh saat disuruh naik angkot. Saya kaget.

Teman-teman saya pun memiliki cerita yang tak jauh berbeda. Adiknya ingin barang yang ini itu. Tidak mau memakai aksesoris yang sama karena teman-temannya selalu menjadi hamba mode.

Mengapa kami memandang adik-adik kami berbeda?

Setelah saya pikir-pikir, kami adalah anak pertama dari para keluarga kelas pekerja menengah atas. Artinya, orang tua memiliki latar belakang yang mencukupi, namun tetap harus bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Orang tua kami memulai kehidupan sederhana, berdua saja. Mereka bekerja sangat keras untuk membeli aset pertamanya, rumah beserta isinya. Di saat inilah, anak pertama hadir. Dengan modal seadanya dan perjuangan hebat, orang tua berusaha memenuhi kebutuhan anak pertama. Saya ingat, waktu saya masih kecil, saya sering dititipkan ke nenek atau tante karena mama sibuk bertugas di Puskesmas Lembang.

Tahun demi tahun berganti, orang tua kami sudah mengumpulkan aset yang lebih besar, pekerjaan yang lebih bonafide. Anak kedua, ketiga, keempat, dst berdatangan. Dalam tahap ini, orang tua sudah bisa memberikan segala fasilitas yang lebih baik dibandingkan saat anak pertama masih kecil.

Saat adik saya lahir, ayah dan ibu bekerja di Bandung. Mereka mempekerjakan pembantu sendiri yang mengasuh adik. Mobil sudah semakin nyaman. Makan di McD, yang dulunya hanya di momen spesial, menjadi makanan biasa yang membosankan.

Gaya hidup anak selanjutnya menjadi setingkat lebih glamor daripada kakaknya. Mereka memiliki keinginan yang mumpuni karena terbiasa diberi hal yang serba berkualitas. Inilah yang menciptakan perbedaan perspektif ekonomi antara kakak beradik.

Tentu saja, teori ini hanya berlaku pada keluarga yang, Alhamdulillah, rezekinya terus mengalir. Kalau yang terjadi sebaliknya, mungkin efeknya pun berbeda. Mungkin, anak pertama menderita standar hidupnya menurun, sementara sang adik bisa menyesuaikan.

Mungkin saja, kakak adik tidak memiliki perbedaan pandangan apabila jarak umurnya dekat dan tidak terjadi perubahan ekonomi signifikan di keluarganya. Selain itu, teori ini terbatas karena  berdasarkan pada realitas yang saya temui saja.

Saya tidak menyalahkan adik saya. Kita hanya hidup di masa berbeda.

Mungkin, kalau saya di posisinya, saya juga tak akan suka makan di pinggir jalan atau naik angkot. Namun ada baiknya, kakak dan adik saling belajar. Saya belajar mengenai pergaulannya. Sementara, ia belajar untuk menikmati kesederhanaan.

Dengan demikian, semoga saja saya dan adik memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas. Bukankah itu harapan yang menyenangkan?

(Saya tunggu cerita dan pendapat mengenai beda perspektif adik kakak ini ya!)

Penyamun Sebelum Ramadhan

Ini bukaanlah tulisan tentang Ramadhan.

Ini cerita tentang bagaimana saya menyadari kedatangan Ramadhan tahun ini dengan cara yang aneh.

Saya mengingatnya, ketika baru memandangi kaca mobil yang pecah, laptop dan alat operasi yang tersimpan didalamnya lenyap. Dan, mama saya mengatakan,” Ini sudah mau puasa ya, li.”

Beberapa minggu lalu, saya, mama, dan adik berkunjung ke rumah nenek di daerah Buah Batu. Saat itu malam, kami mengobrol dan makan bersama untuk menghapus lelah setelah berkegiatan di siang harinya. Kami menikmati momen yang ada. Saat beranjak pulang, kami baru tahu kaca mobil samping kanan pecah. Sepertinya, orang yang memecahkannya sudah ahli. Ia mencongkel kaca bagian atas sehingga pecahan kaca terjatuh ke luar mobil.

Mama langsung mencari barang yang tersimpan di bagasi. Laptop dan alat operasi lenyap. Laptop, dengan mudah mama merelakannya, namun alat operasi sulit. Harganya tidak murah. Untuk apa pula, pencuri itu membawanya?

Alat operasi itu puluhan metal kecil berbentuk sekrup. Pencuri itu akan sulit menjualnya. Itu hanya untuk kalangan terbatas.

Saya menatap jendela mobil tanpa kaca itu, jantung saya jantung yang keras dan cepat. Kalau saja kami pulang saat pencurinya masih ada di dalam mobil, saya benar-benar akan membawa pisau menusuknya, melempari dengan batu, sekaligus mencacinya.

Ya… Saya sangat marah. Namun yang bisa saya lakukan hanyalah berurusan dengan kerusakan dan kehilangan akibat pencuri itu.

Kami pulang mengendarai mobil itu. Saya memikirkan celetukan mama saya yang secara tidak langsung menghubungkan Ramadhan dengan kriminalitas. Memang, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebelum, saat, dan sesudah bulan puasa, kriminalitas meningkat. Saat itulah, para pencuri memanfaatkan kelengahan kita yang  bereforia menyambut momen itu.

Apakah memang benar pencuri ini ada kaitannya dengan Ramadhan? Sulit untuk mengetahuinya, namun saya tidak bisa menahan untuk membayangkan tentang si pencuri ini. ” Ya… Mungkin, dia butuh uang untuk pulang kampung, membeli tajil, baju baru untuk anaknya, membeli motor dan member ang pao untuk sanak saudaranya. Mungkin, dia tertekan,” ucap saya. Saya jadi teringat dengan kata-kata yang terlukis di belakang truk antar daerah, “Pulang Malu, Tak Pulang Rindu.” Mungkin saja, ia mendapat tekanan sosial dari keluarganya untuk tampil hebat dan kaya saat pulang kampung.

Loh.. kok saya jadi kasian ya?

Rasa itu bertambah ketika saya berita di televisi. Seorang pemuda ketahuan mencuri jemuran celana panjang. Warga kesal karena pencurian jemuran sudah sering terjadi. Makanya, pemuda itu dipukuli habis-habisan. Kalau melihat beritanya, dapat saya simpulkan, kamu ibu memarahinya, kaum bapak memukulnya babak belur, sampai mukanya bengkak dan ia menangis. Sementara, para anak-anak menyanyikan ejekan sambil bertepuk tangan saat sang pemuda itu digiring polisi.

Rasanya, menendang dan menusuk pencuri itu memuaskan. Tapi, kalau begitu, apa bedanya saya dengan masyarakat yang membuat babak belur maling jemuran? Karena keburukan seseorang, kita malah membuat kebatilan. Sama saja dengan tenggelam bersama-sama dalam dosa.

Saya mendoakan supaya pencuri itu dibukakan hatinya, mendapat pekerjaan yang baik. Dan apabila memungkinkan, ia memandang alat bedah itu tanpa arti sehingga membuangnya dan kami menemukannya. Apabila itu tidak terjadi, semoga mama saya dapat kembali membeli alat tersebut.

Pencurian itu membuat saya menilik tahun tahun belakangan ini. Keluarga kami lebih banyak mendapatkan kesenangan, rezeki, persaudaraan, pertemanan, dibandingkan hal-hal buruk, semacam ini. Kami terhitung masih beruntung karena pencuri tidak melukai kami. Anehnya, kejadian buruk sebelum Ramadhan ini malah menjadi penyadaran bagi kami sekeluarga.

Sekian cerita saya. Selamat datang kembali Ramadhan!

Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi momen kemenangan kita melawan kelemahan nurani dan keegoisan diri sendiri.

Imam

Cerpen ini adalah karya dari sesi menulis di RL Writers Circle bertemakan “Hari Raya”. Mungkin pembahasannya sedikit sensitif, akan tetapi saya jujur menulisnya berdasarkan pengalaman dan cerita di sekitar saya.

“Dan, bangun…” ujar Fira yang sudah siap shalat Ied. Ia menggoyahkan tubuh suaminya, Dani.

“Uh… ada apa?” Dani terlihat kesal. Ia masih luar biasa mengantuk setelah semalam menonton HBO.

“Lebaran sekarang!” Fira tersenyum pada pria yang dinikahinya delapan bulan yang lalu itu.

“Oh… ya… Selamat Lebaran. See you, dear… Aku masih ngantuk!” Dani menempatkan kepalanya lagi di bantal. Terpejam.

Fira terpaku melihat suaminya.

“Gitu aja?!?” Fira menimpuk kepala Dani dengan bantal.

“Huaah… kenapa, Fir?” Dani terusik.

Fira membisu.

“Selamat Lebaran, Minal Aidzin, Mohon maaf lahir batin. Cukup kan? Maunya aku ikut kamu shalat juga?!?” Sorot mata Dani menajam.

Fira menyerah, menyeret dirinya keluar kamar, dan membanting pintu. Ia mengenakan sandal kulitnya dan berjalan ke masjid dekat rumah. Pakaiannya yang serba putih terasa tidak sesuai dengan matanya yang penuh bara dan hatinya yang menggeram.
Fira berpikir, sepertinya ia melakukan kesalahan besar. Menjadi anak durhaka dengan menikahi Dani, teman kerjanya di bank yang Manado – Kristen, sehingga melukai hati ayah ibunya: pasangan dari Blitar yang ngefans berat dengan Alwi Shihab.

Ayah Fira pernah berujar, “Mendapat suami itu adalah mendapatkan imam hidup.” Dan kini, sepertinya Fira tak yakin Dani bisa menakhodainya ke tujuan semua pasangan dalam dunia dongeng atau pun nyata: happily ever after.

Saat Lebaran dulu, Ayah, Ibu, Fira dan adiknya bersama-sama berjalan ke masjid, shalat bersama, bersalaman dengan tetangga, sungkem pada orang tua. Kemudian, Fira akan membantu ibunya memanaskan opor yang telah dibuat malam sebelumnya lalu menyantapnya bersama.

Kini, Fira berjalan sendiri. Tak akrab dengan tentangga, dan tidak berencana memasak opor. Menghampiri ke rumah orang tuanya pun Fira merasa sungkan.

Masjid terlihat penuh. Fira menggelar koran dan shalat di aspal jalan. Shalat usai. Ia bersalaman dengan puluhan tentangga yang kurang dikenalnya, dan menjawab puluhan tanya, “Kok suaminya ga ikut?” Setiap tanya menambahan bubuhan garam di hatinya yang tersayat.

Fira memilih pulang cepat, meninggalkan gerombolan tentangga yang punya kehidupan sempurna. Ia sedikit berlari seperti anak kecil sambil meremas bungkusan mukenanya. Saat memasuki rumahnya, ia berencana menangis sendiri di kamar mandi. Tapi ada sesuatu yang lain.

Hidung Fira mencium wangi yang sangat dinantinya, opor! Di dapur, ia menemukan seorang pria berbaju koko sedang memasak.

Dani menoleh ke arahnya, “Fira, sori ya yang tadi. Aku rada sakit kepala tadi,”

Fira terpaku.

“Ini, kemaren di Alfamart nemu bumbu instan opor ayam.” Dani mencicipinya, “Hmm… tapi kok beda ya sama yang ada di restoran?”

Fira tergelak.

Setelah mereka makan opor yang rasanya tidak karuan, Dani mengambil kamera digitalnya dan mengarahkan lensa pada wajah keduanya.

“Hmm.. kok kamu diem aja sih? Foto keluarga dulu… Senyum!”  Dani mencontohkan senyum lebarnya.

Klik!

“Oh… bentar!” Dani memakai kopiahnya. “Kata orang yang di toko, ini satu paket model baju koko eh… siapa itu? Ustad yang terkenal..”

“Ustad Jeffry! Uje” jawab Fira.

“Iya!”

Klik!

Di cetakan foto tampak Fira yang cantik tiba-tiba mencium pipi “Uje”-nya.

***